MERUBAH
BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi tumbuh dari waktu ke
waktu. Orang merasa nyaman dengan budaya organisasi yang baru. Bagi orang yang
mempertimbangkan perubahan budaya, biasanya kejadian yang signifikan harus
terjadi. Kejadian yang mengguncang dunia mereka, seperti kebangkrutan,
kehilangan sales dan konsumen yang signifikan, atau rugi jutaan dollar, akan
menarik perhatian banyak orang.
Bahkan sekalipun, untuk mengetahui
bahwa budaya organisasi adalah oknumnya dan mengambil langkah untuk
mengubahnya, ini juga merupakan perjalanan yang berat. Berikut adalah ide-ide
terbaik yang bisa membantu organisasi Anda tumbuh dan bertransformasi.
Ketika orang-orang dalam organisasi
menyadari dan mengetahui bahwa budaya organisasi perlu dirubah untuk mendukung
keberhasilan dan kemajuan organisasi, perubahan bisa terjadi. Tapi perubahan
tidak cukup dan perubahan tidak mudah dilakukan.
Kabar baiknya? Perubahan budaya
organisasi adalah hal yang memungkinkan. Perubahan budaya memerlukan pemahaman,
komitmen, dan alat.
Perubahan budaya dalam
masyarakat meliputi berbagai bentuk meliputi kesenian, ilmu pengetahuan,
teknologi, filsafat dan laoin sebagainya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan
mencakup bagian yang lebih luas dari perubahan sosial, namun didalamnya tidak
termasuk berkaitan dengan organisasi sosial. Hubungan antara perubahan sosial
dan perubahan kebudayaan sangat erat. Kebudayaan adalah cara berpikir dan
bertingkah laku, yang timbul karena interaksi ytang bersifat komunikatif
seperti simbol-simbol dan bahasa yang menjadi alat pertemuan antar individu
atau kelompok. Kebudayaan merupakan hubungan yang kompleks antara
pengetahuan, kepercayaan, kepercayaan, kesenian, adat istiadat dan setiap
kemampuan manusia untuk mengembangkan kebiasaan sebagai warga masyarakat.
Perubahan sosial dan perubahan kebudayaan mempunyai aspek yang sama yaitu
keduanya bersangkut paut dengan suatu cara penerimaan cara-cara baru atau suatu
perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhannya (Soemardjan, 1982)
A. Bagaimana memahami perubahan budaya,
Perubahan budaya adalah perubahan yang terjadi dalam
sistem ide yang dimiliki bersama pada
berbagai bidang kehidupan di masyarakat.
Sementara perubahan
sosial budaya
merupakan perubahan yang
terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Perubahan
budaya sebenarnya
lebih mengacu pada sebuah perubahan dalam proses tata sosial dalam masyarakat.
Beberapa
perubahan budaya ini termasuk juga perubahan dalam lingkungan, lembaga,
perilaku dan juga hubungan sosial. Selain itu, perubahan budaya juga bisa
mengacu pada gagasan untuk sebuah kemajuan sosial dan juga evolusi sosial dan
budaya.
Perubahan
budaya sendiri biasanya dapat berlangsung dengan sangat cepat ataupun lambat
dan umumnya sangat tidak bisa disadari oleh masyarakat dalam sebuah negara.
Karena hanya beberapa orang yang mengetahuinya ketika orang tersebut mulai
membandingkan kehidupan sosial di masa lalu dan masa saat ini.
Perubahan
budaya dalam kehidupan masyarakat biasanya dapat terjadi masyarakat itu sendiri
menginginkan sebuah perubahan sebagai berikut,
- Cara berkomunikasi, Berkembangnya teknologi informasi dan
komunikasi mengubah cara kita dalam berkomunikasi. Dulu komunikasi dilakukan
dengan surat-menyurat, tetapi saat ini dilakuan dengan SMS atau surel. Dulu
juga ada yang namanya telegram dan telegraf, akan tetapi saat ini perannya
digantikan dengan telepon, handphone, dan jejaring sosial. Ini membuktikan
bahwa perkembangan teknologi dapat menyebabkan perubahan budaya dimasyarakat.
- Cara berpakaian, Dulu, orang-orang bangga mengenakan
pakaian adat dari daerah masing-masing. Tetapi, saat ini rasanya hal itu sangat
sulit dijumpai kecuali kalau ada acara-acara adat. Cara berpakaian dipengaruhi
dari informasi-informasi yang didapatkan dari berbagai media seperti Tv dan
Internet. Saat ini, cara berpakaian sebagian masyarakat banyak dipengaruhi oleh
budaya barat.
- Gaya hidup, Sebagian masyarakat menerapkan gaya
hidup yang baik di dalam kehidupannya seperti menjadi vegetarian, workaholic,
dan lainnya. Tetapi ada juga sebagian besar juga dapat membuat masyarakat yang
terjerumus kedalam gaya hidup yang tidak baik yang tentu tidak sesuai dengan
kepribadian bangsa seperti narkoba dan pergaulan bebas.
- Emansipasi wanita, Salah satu bentuk perubahan budaya
budaya yang terjadi di masyarakat adalah emansipasi wanita, artinya wanita
memiliki derajat yang sama dengan pria. Dulu kita jarang sekali melihat wanita
yang menjadi pimpinan, bahkan ada kalimat orang tua yang menyatakan bahwa
kehidupan wanita adalah disekitar dapur, sumur, dan kasur. Saat ini tentu
berbeda, banyak wanita yang menjabat peran penting di negeri ini seperti
anggota parlemen, pimpinan perusahaan, dll.
- Masyarakat semakin kritis, Perkembangan informasi dan komunikasi
membuat akses terhadap informasi semakin mudah. Informasi tersebut bisa
didapatkan dari berbagai media komunikasi, seperti koran, televisi, internet,
dll. Hal tersebut membuat masyarakat kita semakin cerdas dan kritis, contohnya
adalah masyarakat selalu mengomentari kebijakan-kebijakan yang dilakukan
pemerintah untuk negeri ini, terlebih jika kebijakan tersebut tidak populis
dimata rakyat.
- Tergerusnya kebudayaan, Tidak sedikit budaya barat yang masuk
ke negara lain, contohnya adalah perayaan hati valentine dan halloween.
Meskipun kedua budaya tersebut bukan budaya asli lokal, akan tetapi tidak
sedikit masyarakat lokal yang melestarikan budaya tersebut. Banyak masyarakat
yang menyatakan bahwa budaya asing jauh lebih menarik ketimbang budaya kita
sendiri, hal ini yang menyebabkan ketertarikan kepada budaya lokal semakin
menurun.
- Penggunaan bahasa daerah semakin jarang, Contoh perubahan budaya budaya lainnya
adalah penggunaan bahasa daerah yang sudah semakin jarang. Kita tahu bersama,
ada banyak bahasa daerah di penjuru dunia ini. Akan tetapi saat ini banyak
masyarakat lokal yang cenderung menggunakan bahasa nasional. Hal ini bukan
tanpa alasan, karena bahasa nasional lebih dimengerti oleh semua orang
sedangkan bahasa daerah hanya dimengerti oleh masyarakat daerah tertentu saja.
Bahasa internasional juga merebak karena masuknya teknologi dalam masyarakat.
B. Mengapa
budaya harus berubah,
Maksudnya Budaya dapat berubah seiring
perkembangan zaman yang ada. Karena
seiring perkembangan zaman dan perkembangan penduduk, budaya itu
sendiri pun pasti akan berubah. Sebab kedua terjadinya perubahan di
dalam budaya adalah oleh perubahan lingkungan alam dan
lingkungan fisik tempat budaya itu berada.
Kebudayaaan
dalam suatu bangsa akan berkembang dengan seiringnya perubahan zaman, dari
kebudayaan tradisional ke peralihan sampai akhirnya menjadi budaya yang modern.
Pergesaran kebudayaan ini disebabkan oleh banyak hal seperti adanya globalisasi
yang menyebar luas melalui berbagai media, turisme, dan sebagainya. Dapat
disimpulkan bahwa pengaruh budaya barat terlihat sangat lekat pada bangsa
Indonesia terutama di kota Jakarta ini. Mungkin hal tersebut dapat terjadi
karena budaya barat sudah jauh lebih maju dan modern sehingga dijadikan trend
atau panutan bagi masyarakat Indonesia khususnya para generasi muda yang jiwa
akan adat istiadatnya kurang terbentuk dengan baik. Sehingga mereka tidak memilah
milah lagi budaya luar tersebut apakah sesuai dengan kepribadian bangsa atau
tidak.
Faktor
Intern antara lain :
- Bertambah
dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)
- Adanya
Penemuan Baru:
- Discovery : penemuan
ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada
- Invention :
penyempurnaan penemuan baru
- Innovation /Inovasi : pembaruan
atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga
menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada. Penemuan baru didorong
oleh : kesadaran masyarakat akan kekurangan unsure dalam kehidupannya,
kualitas ahli atau anggota masyarakat.
- Konflik
yang terjadii dalam masyarakat
- Pemberontakan
atau revolusi
Faktor
ekstern antara lain :
- Perubahan
alam
- Peperangan
- Pengaruh
kebudayaan lain melalui difusi(penyebaran kebudayaan), akulturasi ( pembauran
antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi
(pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas
budaya lama tidak tampak lagi)
Jadi
menurut Soerjono Soekanto faktor pendorong perubahan sosial adalah :
- Sikap
menghargai hasil karya orang lain
- Keinginan
untuk maju
- System
pendidikan yang maju
- Toleransi
terhadap perubahan
- System
pelapisan yang terbuka
- Penduduk
yang heterogen
- Ketidak
puasan masyarakat terhadap bidang kehidupan tertentu
- Orientasi
ke masa depan
- Sikap
mudah menerima hal baru.
Budaya
Merupakan sesuatu yang tidak statis, tetapi dinamis. Maksudnya Budaya dapat
berubah seiring perkembangan zaman yang ada. Namun, tidak semua unsur-unsur
yang ada di dalam budaya tersebut berubah. Melainkan unsur-unsur terkecil saja
dari budaya itu. Tetapi, terkadang unsur yang berubah itu dapat membuat dampak
yang signifikan terhadap buday itu sendiri.
Budaya
tersebut dapat berubah secara perlahan maupun secara tiba-tiba. Tergantung
seberapa lama dan seberapa kuat budaya tersebut. Hal-hal yang menyebabkan suatu
budaya berubah atau goyah dari budaya aslinya adalah, pertama, sebab budaya
berubah bisa dari masyarakat dan kebudayaan itu sendiri. Seperti perubahan jumlah
dan komposisi penduduk. Maksudnya jika suatu daerah yang mempunyai jumlah
penduduk yang bertambah, itu akan mempengaruhi kebudayaannya. Karena seiring
perkembangan zaman dan perkembangan penduduk, budaya itu sendiri pun pasti akan
berubah.
Sebab kedua terjadinya perubahan di dalam budaya adalah oleh perubahan
lingkungan alam dan lingkungan fisik tempat budaya itu berada. Masyarakat yang
hidupnya terbuka, yang berada di dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat
dan kebudayaan lain, cenderung berubah lebih cepat.
Perubahan ini selain karena jumlah penduduk dan komposisinya, juga karena
adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru khususnya di bidang teknologi
dan inovasi. Selain itu proses akulturasi di dalam sejarah kebudayaan yang
terjadi pada masa silam juga bisa mempengaruhi terjadinya perubahan budaya.
Oleh sebab itu proses akulturasi bisa berdampak positif dan juga negaatif di
dalam suatu kebudayaan, khususnya dalam perubahan budaya itu sendiri.
C. Faktor penyebab terjadinya perubahan budaya
Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Kebudayaan
Kita semua mafhum bahwa setiap kebudayaan
senantiasa berubah seiring berkembangnya zaman. Sebagaimana telah dijelaskan
pada artikel sebelumnya mengenai Konsep
Dasar Dinamika Masyarakat Budaya
bahwa pergeseran nilai-nilai yang berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan pasti
terjadi. Dari yang sebelumnya merupakan kebudayaan tradisional, kemudian
berkembang menjadi kebudayaan peralihan, hingga menuju kebudayaan modern.
Dengan demikian, muncul pertanyaan baru, apa yang menyebabkan suatu kebudayaan
bisa berubah? Soerjono Soekanto menjelaskan terjadinya perubahan kebudayan
disebabkan oleh dua faktor berdasarkan sumbernya yaitu faktor internal dan
eksternal.
1. Faktor
Internal
Perubahan kebudayaan disebabkan oleh faktor internal yaitu
faktor yang berasal dari masyarakat itu sendiri. Berikut ini merupakan faktor
internal penyebab terjadinya perubahan kebudayaan.
- Bertambah dan Berkurangnya Penduduk, Pertumbuhan penduduk yang cepat dapat menyebabkan perubahan
dalam struktur masyarakat seperti munculnya kelas sosial yang baru dan profesi
yang baru. Selain itu pertambahan jumlah penduduk juga mengakibatkan
bertambahnya kebutuhan-kebutuhan seperti sandang, pangan, dan papan. Padahal sumber-sumber pemenuhan kebutuhan tidak
seimbang, sehingga akan timbul masalah sosial seperti pengangguran, kemiskinan,
kriminalitas, dan lain-lain. Kondisi ini akan mengubah pola interaksi dan
meningkatnya mobilitas sosial. Selain itu, berkurangnya penduduk yang diakibatkan oleh
migrasi dan urbanisasi akan mengakibatkan kekosongan dalam pembagian kerja dan
jumlah angkatan kerja, sehingga akan memengaruhi lembaga-lembaga
kemasyarakatan.
- Adanya Penemuan Baru, Penemuan baru dalam masyarakat di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Adanya ide atau alat
baru yang sebelumnya belum pernah ada (Discovery), Penyempurnaan
penemuan baru (Invention), dan Proses pembaharuan atau melengkapi atau
mengganti yang telah ada (Innovation).
- Adanya Pertentangan (konflik) Dalam Masyarakat, Dalam interaksi sosial di masyarakat yang heterogen dan
dinamis, pertentangan-pertentangan (konflik) mungkin saja terjadi baik antara
individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan
kelompok. Apalagi pada masyarakat yang berkembang dari masyarakat
tradisional ke masyarakat modern akan selalu terjadi pertentangan, misalnya
golongan muda yang ingin mengadopsi budaya asing, golongan tua yang tetap
mempertahankan tradisi lama. Konflik ini akan menimbulkan perubahan nilai-nilai, pola
perilaku dan interaksi yang baru di masyarakat tersebut.
- Terjadi Pemberontakan (Revolusi), Revolusi adalah perubahan yang sangat cepat dan mendasar yang
dilakukan oleh individu atau kelompok. Revolusi akan berpengaruh besar pada
struktur masyarakat dan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Pengaruh tersebut mulai dari lembaga negara sampai keluarga
mengalami perubahan-perubahan yang mendasar. Contohnya revolusi industri di
Inggris, revolusi Perancis, revolusi fisik tahun 1945 di Indonesia.
2. Faktor
Eksternal
Faktor
eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar masyarakat melalui interaksi
sosial yang mendorong terjadinya suatu perubahan kebudayaan, yang diantaranya :
- Peperangan, Peperangan
antara negara satu dengan negara yang lain kadang bisa menyebabkan terjadinya
perubahan-perubahan baik pada lembaga kemasyarakatan maupun struktur
masyarakatnya. Biasanya negara yang menang memaksakan
nilai-nilai, cara-cara, dan lembaga yang dianutnya kepada negara yang kalah. Contohnya
rakyat Indonesia saat kalah melawan Belanda. Belanda memaksakan penerapan
sistem pemerintahan kolonial menggantikan sistem pemerintahan kerajaan yang
dianut sebagian besar daerah-daerah di Indonesia. Hal
ini dapat menyebabkan perubahan yang mendasar pada suatu negara baik seluruh
wujud budaya (sistem budaya, sistem sosial, dan unsur-unsur budaya fisik)
maupun seluruh unsur budaya (sistem pengetahuan, teknologi, ekonomi, bahasa,
kesenian, sistem religi, dan kemasyarakatan). Biasanya akibat ini lebih
berpengaruh kepada negara yang kalah.
- Perubahan alam, Salah
satu faktor penyebab perubahan yang bersumber dari lingkungan alam seperti
terjadinya bencana alam banjir, longsor, gempa bumi, kebakaran hutan, dan
sebagainya. Di
daerah yang terkena banjir menyebabkan masyarakat yang berada di sekitar daerah
tersebut terpaksa harus mencari tempat tinggal baru, sehingga mereka harus
menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Selain
itu, tindakan manusia sendiri dapat menyebabkan kerusakan alam, seperti
membuang sampah sembarangan, penebangan liar, pembangunan terus menerus di
lahan pertanian, dan masih banyak lagi. Hal ini dapat merugikan manusia sendiri
seperti kehilangan keluarga, tempat tinggal, harta benda, dan sarana umum
lainnya.
- Pengaruh kebudayaan lain, Di
era globalisasi ini tidak ada satupun negara yang mampu menutup dirinya dari
interaksi dengan bangsa lain. Interaksi yang dilakukan antara dua negara
mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh lain kadang juga bisa
menerima pengaruh dari masyarakat lain. Dengan demikian akan timbul suatu
nilai-nilai sosial budaya yang baru sebagai akibat asimilasi atau akulturasi
kedua budaya.
D. Kapan budaya
harus berubah, model
perubahan budaya,
Organisasi
beraktivitas dari masa ke masa selalu dipengaruhi oleh perubahan
lingkungannya. Budaya organisasi yang sudah tidak relevan lagi terhadap konteks zamannya
dapat menyebabkan melemahnya daya tahan dan daya saing organisasi.
Hal ini juga
menimpa bahkan pada suatu organisasi yang tadinya diakui telah memiliki budaya
yang sangat sempurna di suatu masa, tetapi dengan terjadinya perubahan
lingkungan yang revolusioner, maka yang terjadi pada budaya organisasi dapat berbalik
keadaannya bila tidak direspon secara cepat dan tepat.
Oleh karena
itu pada organisasi yang sehat akan merespon terhadap gejala perubahan yang
membuat organisasi mereka menjadi tidak relevan lagi pada masa itu dengan
mengubah strategi dan budaya organisasinya dengan yang baru.
Organisasi
yang mengalami kemunduran atau kelumpuhan ketika menghadapi perubahan yang
cepat dan tak terduga kemunculannya seperti inilah yang menjadi salah satu
indikator kuat perlunya dilakukan perubahan yang mendasar termasuklah di
dalamnya perubahan terhadap budaya organisasinya.
Perubahan di
atas dipicu oleh beragam penyebab, seperti : kompetisi, loncatan teknologi, politik, peralihan karakteristik
demografi, dan perbaikan ekonomi serta mutu pendidikan. Artinya,
organisasi dapat saja menampilkan banyak wajah dan tentu menjadi semakin
kompleks, organisasi merupakan pelaku dari kekuatan eksternal untuk mengontrol
perubahan yang dibutuhkan.
Apabila
organisasi ingin tetap ada dan tidak digilas oleh roda perubahan zaman, maka
setiap organisasi harus bisa menciptakan budaya baru agar mampu bertahan dan
berkembang. Berubah atau punah adalah semboyannya.
Beberapa
indikator lainnya yang mengisyaratkan perlunya dilakukan perubahan terhadap
budaya organisasi yang lemah :
- Banyaknya problem internal yang muncul karena pemecahan
terhadap masalah-masalah dalam organisasi tersebut hanya seperti pemadam
kebakaran, yaitu baru bertindak apabila masalah sudah timbul. Seharusnya organisasi dapat mengantisipasi setiap masalah yang
berpotensi muncul dan bakal dihadapi organisasi dengan menerapkan
langkah-langkah dalam manajemen strategis;
yaitu menganalisis lingkungan internal dan eksternal, menetapkan visi dan misi,
menentukan tujuan, membuat kebijakan, menyusun program, membuat standar
operasional prosedur, menyusun anggaran, hingga menghasilkan kinerja organisasi
yang tinggi. Dengan demikian organisasi tidak terhalang untuk memfokuskan diri
pada peningkatan pelayanan kepada para pelanggan, karena sudah dapat menangani
ketidakdisiplinan, semangat kerja yang rendah, kekurangmampuan dalam
melaksanakan tugas dari para personil, dan persoalan-persoalan internal
lainnya.
- Terjadinya konflik-konflik internal pada saat
membuat tujuan karena manajer dan penyusun strategi harus mencapai kemajuan,
seperti apakah menekankan pada keuntungan jangka pendek atau pertumbuhan jangka
panjang, pertumbuhan atau stabilitas, risiko tinggi atau risiko rendah,
tanggung jawab sosial atau optimalisasi keuntungan finansial. Konflik tidak
dapat dihindari dalam organisasi, sehingga kesalahan dalam pengelolaan dan
penyelesaiannya menyebabkan disfungsional yang akan menurunkan kinerja
organisasi.
- Tingginya tingkat perpindahan atau absensi dari para karyawan
perusahaan. Brayfield dan Crockett dan Vroom dalam penelitiannya menemukan
hubungan yang konsisten antara ketidakpuasan dengan penarikan diri dalam bentuk
perpindahan atau absensi. Para pekerja yang tidak puas dengan pekerjaannya
lebih mungkin menyingkir atau pindah dibanding para pekerja yang puas. Fenomena
yang sama juga dapat ditemukan pada guru-guru di sekolah.
- Para anggota organisasi tidak memahami dan
menghayati bahkan mungkin tidak mengetahui nilai-nilai pokok dari budaya
organisasinya. Kebijakan yang dibuat oleh pihak manajemen tidak selaras dan
sejalan dengan nilai-nilai pokok tadi, sehingga upaya penginternalisasian
nilai-nilai tersebut kepada para anggota organisasi menjadi semakin kabur dan
tidak terarah.
- Tidak adanya kerangka kerja untuk komunikasi internal di
antara staf, sehingga sulit menyatukan perilaku individu ke dalam kerja sama
tim, terjadi saling lempar tanggung jawab di antara para personil, terbentuk
kelompok-kelompok primordial, berkembangnya apatisme dalam merespon munculnya,
dan tidak ada motivasi untuk menciptakan sikap positif terhadap perubahan.
- Sistem kepemimpinan tidak memungkinkan untuk identifikasi, penentuan
prioritas, dan eksploitasi peluang, tidak memberikan pandangan objektif atas
masalah manajemen, tidak merepresentasikan kerangka kerja untuk aktivitas
kontrol dan koordinasi yang lebih baik, masih tingginya efek dari kondisi dan
perubahan yang jelek, dan tidak memungkinkan agar keputusan besar dapat
mendukung dengan lebih baik tujuan yang telah ditetapkan.
Indikator-indikator
di atas perlu ditengarai dan dikaji secara cermat, apalagi ketika lingkungan
organisasi tersebut sedang menghadapi perombakan besar-besaran dan perubahan
drastis, seperti : berlakunya
peraturan-peraturan baru, mengalami likuidasi atau akuisisi, penggabungan
dengan perusahaan lain, pergantian status, dan sebagainya.
Hal ini
berlaku juga bagi suatu organisasi yang memiliki tingkat persaingan yang amat
ketat atau sangat bergantung pada teknologi, apalagi bagi organisasi yang sudah
hampir runtuh di mana keadaan organisasinya pada waktu itu sudah memasuki
stadium hampir tidak dapat tertolong lagi.
Ketika
pemimpin menyadari dan mengetahui bahwa budaya di dalam organisasinya sudah
perlu dirubah untuk mendukung kesuksesan dan perkembangan organisasi, maka
perubahan itu harus dijalankan. Persoalannya adalah ternyata untuk melakukan
perubahan budaya organisasi bukanlah pekerjaan yang mudah.
Mengubah
budaya organisasi merupakan pekerjaan yang sulit karena budaya organisasi ini
dapat diibaratkan seperti gen atau DNA-nya sebuah organisasi, maka bagaimana
kita dapat mengubah budaya organisasi? Di samping itu pertanyaan lainnya lagi
adalah bukan kapan kita mengubah budaya organisasi? sementa budaya organisasi
itu secara otomatis dan melekat sudah berproses secara berkesinambungan yang
harus dilakukan oleh setiap organisasi. Maka pertanyaannya yang benar adalah
bagaimana dalam proses tersebut kita dapat mentransformasikan budaya yang sudah
menjadi usang tersebut menjadi budaya baru yang lebih kuat !
Perubahan
budaya dapat membutuhkan adanya perubahan nilai-nilai, namun apabila ternyata
nilai-nilai itu merupakan nilai-nilai yang kokoh dan universal serta sudah
teruji keampuhannya dalam mempertahankan eksistensi suatu organisasi tersebut,
maka mungkin yang harus dilakukan adalah bukan mengganti nilai-nilai tersebut,
melainkan perubahan dalam cara menafsirkan terhadap nilai-nilai tersebut hingga
dapat dijelmakan menjadi perilaku yang konstruktif dan produktif dengan
dibekali kompetensi yang relevan sesuai dengan konteks zamannya.
Selain itu,
di sini juga diperlukan komitmen dari para pimpinan dan anggota terhadap proses
perubahan baru tersebut. Yang tidak kalah pentingnya lagi di samping langkah
penyelarasan psikologis dan penyejajaran kemampuan dari para personil di
organisasi tersebut adalah melengkapi dan memodernisasi sarana dan prasarana
dengan peralatan dan fasilitas yang mutakhir.
E. Proses perubahan budaya,
Perubahan budaya organisasi adalah hal
yang memungkinkan. Perubahan budaya memerlukan pemahaman, komitmen, dan alat.
- Langkah-langkah
dalam perubahan budaya, Ada tiga langkah penting yang dilakukan dalam
perubahan budaya organisasi.
- Sebelum
organisasi bisa merubah budayanya, pertama harus memahami budaya yang ada, atau
menggunakan cara yang ada saat ini.
- Setelah
memahami budaya organisasi yang ada saat ini, organisasi Anda dimasa datang,
dan putuskan bagaimana budaya organisasi bisa mendukung kesuksesan. Visi apa
yang dimiliki organisasi untuk masa depannya dan bagaimana seharusnya perubahan
budaya bisa mendukung pemenuhan visi tersebut ?
- Terakhir,
individu dalam organisasi harus memutuskan untuk merubah perilaku mereka untuk
menciptakan budaya organisasi yang diinginkan. Ini adalah langkah tersulit
dalam perubahan budaya.
- Rencanakan
Budaya Organisasi yang diinginkan, Organisasi harus merencanakan kemana tujuan
mereka sebelum mencoba membuat perubahan dalam budaya organisasi. Dengan gambaran
yang jelas dimana arah perusahaan, organisasi bisa merencanakan kemana arah
selanjutnya. Misi, visi, dan nilai: untuk memberikan
kerangka penilaian dan evaluasi budaya organisasi, organisasi Anda harus
mengembangkan gambaran masa depan yang diinginkan. Apa yang ingin diciptakan
organisasi dimasa datang? Misi, visi, dan nilai harus diuji, baik strateginya
dan nilai yang berdasarkan komponen organisasi. Tim manajemen Anda harus
menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :
- apa
5 nilai terpenting yang ingin Anda lihat untuk mewakili budaya organisasi Anda ?
- apakah
nilai-nilai ini sesuai dengan budaya organisasi saat ini? apakah mereka ada?
Jika tidak, mengapa tidak? Jika mereka tidak begitu penting mengapa? Jika
mereka sangat penting, mengapa Anda tidak mencapai nilai-nilai ini?
- apa
yang diperlukan untuk menciptakan budaya yang diinginkan oleh organisasi? Anda
tidak bisa mengubah budaya organisasi tanpa mengetahui kemana organisasi ingin
berada atau elemen apa dalam budaya organisasi yang perlu diubah. Elemen-elemen
budaya apa yang mendukung keberhasilan organisasi Anda, atau tidak? Misalnya,
tim Anda memutuskan bahwa Anda terlalu banyak menggunakan waktu untuk saling
menyetujui daripada menantang asumsi dan prediksi anggota tim, yang biasanya
salah.
- Pada contoh kedua, anggota tim manajemen inti,
yang seharusnya memimpin perusahaan, menghabiskan waktu team building dengan
berbagai anggota tim yang berbeda dengan basis individu, dan menjadi kerusakan
fungsi keseluruhan kelompok. Ketiga, karyawan perusahaan seperti membuat
keputusan, tapi, sebenarnya, sedang menunggu “berkah” dari pemilik atau pendiri
perusahaan yang maju kedepan dengan perusahaan.
- Di masing-masing situasi ini, komponen budaya
organisasi akan menjaga langkah kedepan perusahaan dengan kesuksesan yang sepadan.
Anda harus secara sadar mengidentifikasi hambatan-hambatan budaya dan
memutuskan untuk merubahnya.
- Namun, dengan mengetahui seperti apa budaya
organisasi yang diinginkan belumlah cukup. Organisasi harus menciptakan rencana
untuk memastikan bahwa budaya organisasi yang diinginkan menjadi kenyataan.
- Merubah
budaya organisasi, Lebih sulit untuk merubah budaya sebuah
organisasi yang eksis daripada menciptakan budaya didalam organisasi baru. Jika
budaya organisasi telah ditetapkan, orang harus melepaskan nilai-nilai lama,
asumsi, dan perilaku sebelum mereka belajar yang baru.Dua elemen terpenting dalam menciptakan
perubahan budaya organisasi adalah dukungan eksekutif dan pelatihan.
- Dukungan eksekutif : eksekutif dalam organisasi harus
mendukung perubahan budaya, selain dukungan verbal. Mereka harus menunjukkan
dukungan perilaku untuk perubahan budaya. Eksekutif harus memimpin perubahan
dengan merubah perilaku mereka. Ini sangat penting bagi para eksekut if untuk
mendukung perubahan secara konsisten.
- Pelatihan : perubahan budaya tergantung pada
perubahan perilaku. Anggota organisasi harus memahami dengan jelas apa yang
diharapkan dari mereka, dan harus tahu bagaimana melakukan kebiasaan baru,
setelah ditentukan. Training bisa jadi sangat berguna baik untuk mengkomunikasikan
harapan dan mengajarkan kebiasaan baru.
- Tambahan
dalam perubahan budaya organisasi Komponen penting lainnya dalam perubahan
budaya organisasi adalah :
- Menciptakan pernyataan nilai
dan kepercayaan
: gunakan fokus karyawan pada kelompok, dengan departemen untuk meletakkan
misi, visi, dan nilai-nilai kedalam kata-kata yang menyatakan pengaruh di
masing-masing pekerjaan karyawan. Untuk satu pekerjaan, karyawan menyatakan :
“Saya menghidupkan nilai kualitas perawatan pasien dengan mendengarkan dengan
penuh perhatian apa yang diucapkan pasien.” Latihan ini akan memberikan
pemahaman umum terhadap budaya yang diinginkan yang sebenarnya merefleksikan
tindakan yang harus dipenuhi dalam pekerjaan mereka.
- Mempraktekkan komunikasi yang
efektif
: membuat semua karyawan mendapatkan informasi terkait dengan proses perubahan
budaya organisasi memastikan akan komitmen dan keberhasilan. Dengan mengatakan
pada karyawan apa yang diharapkan dari mereka adalah penting untuk perubahan
budaya organisasi yang efektif.
- Review struktur organisasi : perubahan struktur organisasi secara fisik
untuk memenuhi keinginan budaya organisasi yang diperlukan. Misalnya, dalam
perusahaan kecil, empat unit bisnis yang berbeda berkompetisi dalam hal produk,
pelanggan, dan sumber dukungan internal, mungkin tidak akan mendukung
penciptaan budaya organisasi yang efektif. Unit-unit ini seperti tidak
mendukung kesuksean bisnis secara keseluruhan.
- Desain ulang pendekatan
terhadap reward dan pengakuan : Anda perlu mengubah sistem reward untuk
mendorong perilaku penting yang diinginkan dalam budaya organisasi.
- Review semua sistem kerja Anda, seperti promosi karyawan, manajemen kinerja,
dan pemilihan karyawan untuk memastikan mereka sesuai dengan budaya yang
diinginkan. Misalnya, Anda tidak bisa memberikan reward kinerja individu jika
persyaratan budaya organisasi menentapkan team work. Bonus total eksekutif
tidak bisa digunakan sebagai reward sasaran departemennya tanpa mengenali
pentingnya peran dia dalam tim eksekutif untuk mencapai tujuan organisasi.Anda bisa mengubah budaya organisasi
untuk mendukung pencapaian tujuan bisnis Anda. Merubah budaya organisasi
memerlukan waktu, komitmen, perencanaan dan pelaksanaan yang tepat – tapi ini
bisa dilakukan.
F. Hambatan dalam perubahan budaya,
Berubahnya budaya kerja akan membawa pengaruh
untuk setiap bagian perusahaan. Karyawan, sistem kerja, produksi, hubungan
dengan klien, hingga sampai pada proses mendasar seperti administrasi.
Perubahan ini tidak terjadi serta merta, melainkan secara bertahap. Sebagai HR, kepekaan terhadap hal ini perlu
dimiliki agar tidak terlambat untuk melakukan perubahan yang diperlukan.
Sebenarnya perubahan budaya kerja bukan hanya
tanggung jawab divisi HR namun menjadi tanggung jawab setiap bagian dari
perusahaan. Perubahan budaya yang lebih baik diperlukan agar perusahaan tetap
bisa berkembang dan mempertahankan keberadaannya di dunia industri. Dalam
melakukan perubahan, terdapat serangkaian tantangan yang pasti akan dihadapi
HR.
Tantangan ini, sekali lagi, perlu disikapi
dengan perhitungan yang cermat serta pembacaan kondisi yang baik. Terdapat
beberapa tantangan yang dihadapi ketika HR ingin melakukan perubahan budaya di
lingkungan kerja. Berikut jabaran hambatan, beserta solusi yang bisa menjadi
opsi untuk HR dalam menyikapi hambatan tersebut.
- Penolakan Terhadap Perubahan, Setiap perubahan tentu akan menghadapi
hambatan ini. Kondisi yang telah ada dan ‘dinikmati’ setiap bagian perusahaan
biasanya menjadi alasan utama penolakan ini. Hal ini disertai dengan ketakutan
bahwa perubahan yang terjadi akan berdampak buruk secara personal untuk
karyawan sehingga karyawan cenderung menolak perubahan ini. Solusi utama dari
permasalahan ini adalah komunikasi yang baik. Setiap perubahan yang ingin
dilakukan, sebaiknya dikomunikasikan dengan baik kepada setiap karyawan agar
karyawan memahami urgensi perubahan tersebut. Berikan insight secara
mendalam, sehingga karyawan bisa melihat tujuan besar dibalik perubahan budaya
kerja yang akan dilakukan.
- Kurangnya Keinginan untuk Berubah, Langkah awal untuk melakukan perubahan
adalah mendapatkan dukungan dari level eksekutif dari perusahaan. Ketika level
eksekutif menyetujui perubahan yang akan dilakukan, maka penerapan perubahan
yang direncanakan bisa lebih mudah karena setiap staff eksekutif akan turut
serta membantu pada level di bawahnya. Terkadang hal ini menjadi sedikit sulit
ketika level eksekutif ‘menolak’ perubahan yang direncanakan. Comfort
zone yang tercipta dan kurangnya keinginan untuk melakukan perubahan
menjadi problem utama. Hal ini sangat awam terjadi pada staf dengan usia yang
cukup senior serta pikiran yang masih konservatif. Pendekatan secara personal dan profesional
perlu dilakukan dengan intens. staff senior biasanya mengandalkan pengalaman
yang dimiliki, padahal tidak semua staff senior pernah mengalami revolusi industri dengan orientasi pada
optimalisasi sistem informasi berlandaskan teknologi internet. Hal ini yang
perlu disampaikan dan dimengerti oleh staf senior tersebut agar perubahan bisa
diterapkan lebih mudah.
- Minimnya Rasa Memiliki, Perubahan budaya
dalam perusahaan, tidak hanya tanggung jawab dari staf HR saja, namun juga
menjadi tanggung jawab setiap staf perusahaan. Seringkali hal ini menemui
hambatan ketika staf perusahaan kurang memiliki sense of ownership.
Artinya staf tidak merasa ikut memiliki dan menjadi bagian dari perusahaan
tersebut. Hal ini jelas membuat kerja HR semakin berat karena harus melakukan
perubahan secara sepihak. Hambatan ini bisa disikapi dengan pemberian
pengertian yang jelas pada perubahan yang akan terjadi, dan bahwa partisipasi
setiap karyawan diperlukan dalam rangka menerapkan perubahan ini. Berikan kesan
pada setiap karyawan bahwa mereka memiliki peran vital dalam perubahan,
sehingga perusahaan dapat berubah menjadi lebih baik lagi.
- Risiko Kehilangan Status Quo, Seperti yang dijelaskan pada bagian
sebelumnya, karyawan yang sudah bekerja dalam kurun waktu tertentu cenderung
akan menikmati kondisi yang ada. Karyawan seperti ini akan menjadi hambatan
ketika perubahan baru terkait budaya perusahaan diterapkan. Mereka akan melawan
perubahan ini karena dianggap berisiko menghilangkan apa yang sudah mereka
kenal. Kemampuan adaptasi karyawan dan negosiasi HR akan sangat dituntut untuk
menghadapi situasi ini. Kepandaian HR dalam mengarahkan dan memberi
pengertian harus menjadi senjata utama, agar karyawan mau menerima perubahan
yang akan diterapkan. Perubahan yang dilakukan juga tidak bisa serta merta
terjadi, karena tentu penolakan keras juga akan muncul. Lakukan perubahan
secara bertahap sehingga karyawan dapat melihat efek positif dari perubahan
yang terjadi. Dengan melihat dampak positif ini, sikap karyawan bisa turut
berubah, dari menolak menjadi mendukung perubahan. Dengan demikian perubahan
budaya kerja bisa diterapkan lebih efektif. Perubahan budaya kerja dalam
perusahaan memang bukan hal yang mudah. Meski staf HR memiliki kemampuan
negosiasi dan persuasi yang mumpuni, langkah yang diambil harus berdasarkan
data yang valid sehingga memiliki pondasi kuat.
Memahami
Perubahan Organisasi dan Yang Harus Dilakukan Untuk Menghadapinya (2)
Setiap
organisasi memiliki hambatan yang membuat proses perubahan menjadi terkendala.
Seperti yang disebut di modul sebelumnya,
bahwa manajemen perubahan diperlukan agar hambatan hambatan yang menjadi
kendala dapat teratasi dan perubahan berlangsung sesuai yang direncanakan.
Diantara
hambatan-hambatan perubahan yang perlu kita ketahui adalah :
- Karyawan
kurang terlibat; gagal melibatkan karyawan dalam proses perubahan
- Komunikasi
tidak efektif; hanya mengeluarkan pengumuman dan strategi perubahan, sementara
karyawan juga ingin tahu perihal dampak dari perubahan tersebut.
- Buruknya
antisipasi pergeseran budaya. Perusahaan jangan mengabaikan perasaan karyawan
terkait budaya ataupun adat yang mereka anut.
- Kondisi
kini yang kurang jelas. Perlu adanya assessment sehingga
dipahami kondisi yang dihadapi, baru merencanakan perubahan.
- Kompleksitas
organisasi. Mencakup kompleksitas proses, sistem dan produk yang
dihasilkan. Lebih-lebih kalau organisasi belum siap menghadapi kompleksitas
tersebut.
Memahami
akan hambatan-hambatan yang timbul dalam melakukan perubahan, maka para
pemimpin harus memperhatikan beberapa faktor penting berikut :
- Mengenali
serta menerima kebutuhan akan perubahan, Peluang sukses suatu perubahan masih
tetap rendah sampai kebutuhan akan perubahan itu dikenali dan disetujui. Dalam
banyak hal kita meminta perubahan hanya untuk sekedar ‘berubah’ saja, tentu hal
seperti ini tidak bisa diterima. Jika kebutuhan akan perubahan dibentuk secara
realistis, maka hasrat tersebut bisa diperkuat.
- Komunikasi, Hendaklah setiap orang mengetahui
perubahan apa yang akan terjadi. Jelaskan manfaatnya, dan jangan sembunyikan
kesulitan-kesulitan yang mungkin timbul. Dapatkan bantuan. Jaga perubahan
sesuai konteksnya. Ingatlah bahwa suatu perubahan boleh jadi kelihatan besar,
namun seringkali kecil saja pada kenyataannya.
- Dukung
perubahan yang diperlukan, Menyuruh seseorang untuk berubah,
serta berharap perubahan terjadi dengan sendirinya, tidak akan pernah berhasil
membawa perubahan. Intens mengingatkan tentang mengapa perubahan itu
diperlukan, serta manfaat apa yang akan diperoleh, adalah metode yang positif
untuk mendukung perubahan yang diperlukan.
- Mempertegas
reaksi terhadap perubahan, baik positif maupun negatif, Setelah perubahan dicapai dengan sukses,
maka beritahu tim Anda pencapaian ini. Jika kesuksesan yang dicapai lebih
rendah dari yang diharapkan, beritahu mereka juga. Tanpa penegasan, baik
positif maupun negatif, semangat dan kesediaan untuk melakukan perubahan bisa
hilang.
- Berperan
sebagai teladan, Jika anda menginginkan seseorang
melakukan tugas, Anda harus bisa menjadi teladan/panutan (role-model)
suatu perilaku yang sesuai bagi mereka.
- Cari
dan kenali “zone of stability”, Tetapkan standar yang tinggi, namun
masuk akal; lakukan penilaian terhadap bawahan tentang harapan yang berkaitan
dengan kinerja mereka dan berikan kepada mereka penilaian Anda atas usaha yang
mereka lakukan secara continu. Hal ini bisa dilakukan
melalui One on One Coaching, dengan menekankan pengembangan
SDM (people development) bertolak dari kinerja yang dicapai
individu.
Siap Jadi Change Agents ?
Sebagai
pemimpin yang bertanggungjawan terhadap perubahan, Anda harus memandang diri
Anda sebagai pelopor perubahan. Untuk menjamin perubahan sukses, maka Anda
perlu mengintegrasikan pendekatan sistem, proses, maupun perilaku (people).
Anda berperan sebagai pelaku perubahan bukan hanya ketika berada dalam proyek,
tetapi sepanjang aktivitas sehari-hari.
REFERENSI :
Kusdi. 2011. Budaya Organisasi: Teori, Penelitian dan Praktik. Salemba
Empat. Jakarta.
Robbins & Judge. 2015. Perilaku organisasi. Edisi 16. Salemba Empat.
Jakarta.
Wibowo. 2016. Budaya Organisasi. Rajawali Press.
Jakarta.
Sutrisno,
Mudji dan Putranto, Hendar. Teori-Teori Kebudayaan. Jakarta: Kanisius. Hal 148
Thoha,
Miftah, Perilaku Organisasi, Konsep Dasar dan Aplikasinya, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persad
Wahab, Abdul Azis,
Anatomi organisasi dan Kepemimpinan Pendidikan, Bandung:, penerbit Alfabeta,
2008
Chattab, Nevizond (2007), Diagnosis
Management : Upaya Peningkatan Keunggulan Organisasi, Penerbit Serambi, Jakarta
Cummings, G. Thomas and Worley, G.
Cristhopher (2005), Organizational Development And
Change. Thompson South Western. Internastional Student edition. Uhio USA
Frost, P.J, et.al (1985)
Organizational Culture. Sage Publication, Inc, London
Gibson & Ivanicevich &
Donnely. (1996), Organisasi : Prilaku, struktur, Proses. Penerjemah Adiarni, N.
Binarupa Aksara, Jakarta
Hofstede, G. (1983), The
Culture Relativity of Organizational Practice and Theories.
SUMBER LAIN :
Wikipedia.org. Manajemen.
http://teknikkepemimpinan.blogspot.com/2012/09/pengembangan-budaya-organisasi.html
https://arbaswedan.id/membangun-budaya-organisasi/
https://jurnalmanajemen.com/budaya-organisasi/