Pengambilan Keputusan Beresiko
Resiko merupakan penyimpangan dari ekspektasi tingkat pengembalian yang diharapkan, pelaku bisnis selalu mengharapkan perusahaannya akan beroperasi dengan baik dan mendapatkan keuntungan, namun adanya resiko malah dapat mengakibatkan kerugian yang berdampak perusahaan harus memutuskan sesuatu dengan sangat hati-hati dalam mengambil tindakannya. Dalam mengambil keputusan pelaku bisnis sebaiknya juga mempertimbangkan tingkat toleransi terhadap resiko. Upaya pengambilan keputusan inilah yang membedakan individu dari setiap pelaku usaha. Saat ini persaingan bisnis di Indonesia sangatlah ketat. Tidak heran banyak perusahaan yang tumbuh, berkembang dan sukses. Tapi ada juga perusahaan yang mengalami penurunan bahkan sampai gulung tikar.
Untuk mengatasi masalah yang timbul dalam persaingan bisnis, salah satu yang harus dapat dilakukan perusahaan yaitu harus mampu mengendalikan operasionalnya dengan baik. Karena jika terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan, akan mengakibatkan perusahaan tidak mampu dalam berkompetisi dengan persaisang bisnis yang tidak mungkin berhenti, hingga akhirnya bangkrut.
Pada dasarnya manajemen harus memutuskan
bagaimana mengelola sumber daya ekonomi sesuai dengan tujuan perusahaan. Salah
satu tujuan perusahaan adalah untuk mencapai laba yang semaksimal mungkin.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka, sumber daya ekonomi tersebut harus
digunakan secara efisien dan efektif. Efektif berarti apabila sumber daya
tersebut benar – benar digunakan untuk tujuan perusahaan yaitu untuk mencapai
laba semaksimal mungkin. Sedangkan efisien berarti apabila sumber daya ekonomi
tersebut bebas dari pemborosan.
Pengambilan Keputusan Dalam Kondisi Berisiko
Pengambilan
keputusan dalam kondisi berisiko adalah suatu kejadian atau keadaan dimana
terjadi dua kemungkinan hasil (berhasil/gagal) yang akan terjadi jika mengambil
suatu keputusan dalam suatu peristiwa.
Pengertian Pengambilan
Keputusan dalam Kondisi Beresiko
Pengambilan keputusan dalam kondisi berisiko
adalah pengambilan keputusan dimana terjadi hal-hal sebagai berikut :
- Alternatif yang harus dipilih megandung lebih dari satu kemungkinan hasil.
- Pengambilan keputusan memiliki lebih dari satu alternatif tindakan.
- Diasumsikan bahwa pengambil keputusan mengetahui peluang yang akan terjadi terhadap berbagai tindakan dan hasil.
- Risiko terjadi karena hasil pengumpulan keputusan tidak dapat diketahui dengan pasti, walaupun diketahui nilai probabilitasnya.
- Pada kondisi ini, keadaan alam sama dengan kondisi tidak pasti. Bedanya dalam kondisi ini, ada informasi atau data yang akan mendukung dalam membuat keputusan, berupa besar atau nilai peluang terjadinya bermacam-macam keadaan.
- Teknik pemecahannya menggunakan konsep probabilitas, seperti model keputusan probabilistik, model inventori probabilistik, model antrian probabilistik.
1. Definisi resiko, manajemen resiko, manajemen resiko keputusan
a.
Konsepsi Resiko.
Risiko
merupakan sesuatu, dalam hal ini yang akan diterima atau ditanggung oleh
seseorang sebagai konsekuensi atau akibat dari suatu tindakan.
Berikut
ini diberikan beberapa arti lain dari risiko :
- Risiko adalah kesempatan timbulnya kerugian.
- Risiko adalah kemungkinan timbulnya kerugian.
- Risiko adalah ketidakpastian.
- Risiko adalah penyimpangan hasil actual dari hasil yang diharapkan.
- Risiko adalah suatu hasil yang berbeda dari hasil yang diharapkan.
b.Kondisi berisiko adalah suatu
keadaaan yang memenuhi beberapa syarat, yaitu sebagai berikut:
- Ada alternatif tindakan yang fisibel (dapat dilakukan).
- Ada kemungkinan kejadian yang tidak pasti dengan masing-masing nilai probabilitas.
- Memiliki nilai “pay off” sebagai hasil kombinasi suatu tindakan dan kejadian tidak pasti tertentu.
Pay off merupakan nilai yang menunjukan hasil
yang diperoleh dari kombinasi suatu alternative tindakan dengan kejadian tidak
pasti tertentu. Pay off dapat berupa nilai pembayaran, laba, kenaikan pangsa
pasar, kekalahan, penjualan, kemenangan, dan sebagainya.
c. Expected Pay Off (EP)
Dengan cara ini kita memilih alternatif dengan
nilai harapan pay off terbesar (maximum expected pay off) atau
nilai harapan kekalahan terkecil (minimum expected loss). Hal yang
sifatnya menguntungkan (laba, hasil penjualan, penerimaan), E(X) (nilai
harapan) dinyatakan dengan Expected Pay off (EP).
d. Expected Lost
Hal yang sifatnya
merugikan (pengeluaran, kekalahan), E(X) (nilai harapan) dinyatakan
sebagai Expected Loss (EL).
e. Expected Monetary Value (EMV)
Dalam pengambilan keputusan selalu diusahakan
untuk memilih keputusan dengan nilai harapan yang maksimum. Dalam prakteknya
dinyatakan dengan besarnya nilai uang
yaitu Expected Monetary Value (EMV).
f. Pengertian Manajemen
Risiko
Apa itu manajemen risiko? Pengertian manajemen risiko adalah suatu proses identifikasi,
analisis, penilaian, pengendalian, dan upaya menghindari, meminimalisir, atau
bahkan menghapus risiko yang tidak dapat diterima.
Dalam hal ini risiko berhubungan dengan pendekatan atau metodologi dalam
menghadapi ketidakpastian dalam bisnis. Dalam KBBI arti kata risiko adalah
akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu tindakan.
Ketidakpastian ini bisa berupa ancaman, pengembangan strategi, dan mitigasi
risiko.
Dalam perusahaan, manajemen risiko (risk
management) adalah suatu proses perencanaan, pengaturan,
pemimpinan, dan pengontrolan aktivitas sebuah organisasi untuk meminimalisir
resiko pendapatan perusahaan.
2. Tahap melaksanakan manajemen resiko
Untuk
mengimplementasikan manajemen risiko secara komprehensif ada beberapa tahap
yang harus dilaksanakan oleh suatu perusahaan, yaitu:
a. Identifikasi
risiko
Identifikasi
risiko adalah kegiatan mengidentifikasi semua risiko usaha yang dihadapi, baik
risiko yang bersifat spekulatif maupun risiko yang sifatnya murni. Identifikasi
risiko dilakukan untuk mengidentifikasi risiko-risiko apa saja yang dihadapi
oleh suatu organisasi. Segala informasi yang berkenaan dengan usaha dikumpulkan
kemudian dianalisis, bagian-bagian mana yang sekiranya akan muncul sebagai
penyebab kemungkinan terjadinya suatu kerugian.
Pada
tahap ini pihak manajemen perusahaan melakukan tindakan berupa mengidentifikasi
setiap bentuk risiko yang dialami perusahaan.
b. Mengidentifikasi
bentuk-bentuk risiko
Pada
tahap ini diharapkan pihak manajemen perusahaan telah mampu menemukan bentuk
dan format risiko yang dimaksud.
1) Menempatkan
ukuran-ukuran risiko
Pada
tahap ini pihak manajemen perusahaan sudah menempatkan ukuran atau skala yang
dipakai, termasuk rancangan model metodologi penelitian yang akan digunakan.
2) Menempatkan
alternatif-alternatif
Pada
tahap ini pihak manajemen perusahaan telah melakukan pengolahan data.
3) Menganalisis
setiap alternatif
Pada
tahap ini dimana setiap alternatif yang ada selanjutnya dianalisis dan
dikemukakan berbagai sudut pandang serta efek-efek yang mungkin timbul.
4) Memutuskan satu
alternatif
Pada
tahap ini setelah berbagai alternatif dipaparkan dan dijelaskan baik dalam
bentuk lisan dan tulisan oleh para manajemen perusahaan maka diharapkan pihak
manajer perusahaan sudah memiliki pemahaman secara khusus dan mendalam.
5) Melaksanakan
alternatif yang dipilih
Pada
tahap ini setelah alternatif dipilih dan ditegaskan serta dibentuk tim untuk
melaksanakan ini, maka artinya manajer perusahaan sudah mengeluarkan surat
keputusan (SK) yang dilengkapi dengan rincian biaya.
6) Mengontrol
alternatif yang dipilih tersebut
Pada
tahap ini alternatif yang dipilih telah dilaksanakan dan pihak tim manajemen
beserta para manajer perusahaan.
7) Mengevaluasi
jalannya alternatif yang dipilih
Evaluasi
dan pengukuran risiko adalah kegiatan untuk menilai bagian-bagian yang
diperkirakan akan menjadi penyebab terjadinya suatu kerugian. Tujuan evaluasi
risiko adalah untuk memahami karakteristik risiko dengan lebih baik. Jika kita
memperoleh pemahaman yang lebih baik, maka risiko akan lebih mudah
dikendalikan. Evaluasi yang lebih sistematis dilakukan untuk ‘mengukur’ risiko
tersebut.
Pada
tahap ini setelah alternatif dilaksanakan dan kontrol dilakukan maka
selanjutnya pihak tim manajemen secara sistematis melaporkan kepada pihak
manajer perusahaan.
3. Tipe resiko
Secara
umum risiko dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Risiko Murni (pure
risk)
Risiko
di mana kemungkinan kerugian ada, tetapi kemungkinan keuntungan tidak ada (yang
hanya ada kerugian).
Contoh: risiko kecelakaan, kebakaran, banjir, dan semacamnya (risiko-risiko yang bergerak pada satu arah saja yaitu arah kerugian).
Asuransi
biasanya lebih banyak berurusan dengan risiko murni.
Risiko
murni (pure risk) dapat dikelompokkan pada 3 (tiga) tipe risiko, yaitu:
1) Risiko aset
fisik
Merupakan
risiko yang berakibat timbulnya kerugian pada aset fisik suatu perusahaan.
Contoh:
kebakaran, banjir, gempa, tsunami, gunung meletus, dll.
2) Risiko karyawan
Merupakan
risiko karena apa yang dialami oleh karyawan yang bekerja di perusahaan
tersebut.
Contoh:
kecelakaan kerja sehingga aktivitas perusahaan terganggu.
3) Risiko Legal
Merupakan
risiko dalam bidang kontrak yang mengecewakan atau kontrak tidak berjalan
sesuai dengan rencana. Risiko ini akibat kelemahan masalah hukum, mulai dari
tuntutan hukum, tidak adanya kerangka hukum, dan kelemahan perjanjian.
Contoh:
perselisihan dengan perusahaan lain sehingga adanya persoalan seperti ganti
rugi.\
b. Risiko
Spekulatif (speculative risk)
Risiko
dimana kita mengharapkan terjadinya kerugian dan juga keuntungan. Kemungkinan
kerugian ada, tetapi disamping itu juga terdapat kemungkinan untung. Risiko ini
biasanya berkaitan dengan risiko usaha atau bisnis.
Contoh: perjudian, pembelian saham, valuta asing, saving dalam bentuk emas, perubahan tingkat suku bunga perbankan.
Risiko
spekulatif (speculative risk) dapat dikelompokan sebagai berikut:
1) Risiko pasar
Merupakan
risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar yang bervariasi,
seperti akibat suku bunga, nilai tukar, dan komoditas.
Contoh:
harga saham mengalami penurunan sehingga menimbulkan kerugian.
2) Risiko
kredit/investasis
Merupakan
risiko yang terjadi karena counter party (debitur) gagal
memenuhi kewajibannya kepada perusahaan.
Contoh:
timbulnya kredit macet, persentase piutang meningkat.
3) Risiko
likuiditas
Merupakan
risiko karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan kas/ketidakmampuan dalam
menempatkan kewajiban (liability).
Contoh:
kepemilikan kas menurun, sehingga tidak mampu membayar hutang secara tepat,
menyebabkan perusahaan harus menjual aset yang dimilikinya.
4) Risiko
operasional
Merupakan
risiko yang disebabkan pada kegiatan operasional yang tidak berjalan dengan
lancar.
Contoh:
terjadi kerusakan pada komputer karena berbagai hal termasuk terkena virus.
5) Risiko strategi
Risiko
yang timbul akibat lemahnya pembentukan dan penerapan strategi perusahaan,
lemahnya pengambilan keputusan dalam dunia bisnis atau kesenjangan reaksi dalam
menghadapi perubahan. Risiko ini dikelola pada level direksi dan memerlukan
perencanaan strategi.
Beberapa tipe dari risiko yang
mungkin akan muncul adalah sebagai berikut :
- Strategic Risk, Strategic risk adalah risiko
yang mungkin muncul ketika strategi dari perusahaan
menjadi tidak efektif dan akhirnya perusahaan mengalami kesulitan dalam mencapai
tujuannya. Permasalahan seperti ini bisa saja muncul ketika adanya perubahan
teknologi, adanya kompetitor baru yang cukup kuat, perubahan pada permintaan
pasar atau perubahan lainnya yang memiliki dampak besar.
- Compliance Risk, Risiko ini dapat dikatakan
sebagai risiko yang muncul dari luar. Perubahan yang selalu terjadi akan
mengharuskan kita melakukan penyesuaian terhadap
perubahan tersebut.
Contohnya saja ketika sebuah produk akan diekspor keluar negeri. Tentunya
produk yang dieskpor haruslah memenuhi peraturan yang ada pada negara tujuan
yang tentunya memiliki risiko yang harus diminimalisir dengan baik.
- Operational Risk, Selain pada lingkungan
eksternal, risiko juga dapat muncul dari dalam atau internal. Operational risk adalah risiko yang muncul dari operasional harian. Risiko ini bisa ditimbulkan
dari kesalahan teknis, atau kesalahan yang dilakukan oleh pegawai maupun proses
yang ada.
- Financial Risk, Sebagian dari kategori risiko
yang ada memang menyebabkan membengkaknya biaya yang harus dibayarkan. Akan
tetapi tipe dari risiko ini menspesifikkannya pada alur uang yang masuk dan keluar dan kemungkinan
adanya ketidakstabilan keuangan secara tiba-tiba.
- Reputational Risk, Reputasi adalah segalanya dan risiko yang mengancamnya masuk dalam tipe ini.
Jika reputasi yang baik rusak, maka bisa saja dapat mempengaruhi pemasukan dari
perusahaan dan mengurangi kepercayaan dari pelanggan. Selain itu stakeholder
luar akan enggan melakukan hubungan apapun terhadap perusahaan hingga dapat
menyebabkan kebangkrutan pada perusahaan. Risiko ini dapat berbentuk penarikan
masal produk cacat atau gagal, gugatan hukum yang cukup besar, ataupun bahkan
review buruk yang terjadi secara berantai.
4.Mengelola resiko
Pengelolaan Risiko, Setelah analisis dan evaluasi risiko, langkah selanjutnya dalam manajemen risiko adalah mengelola risiko.
Risiko
harus dikelola. Jika organisasi gagal mengelola risiko, maka konsekuensi yang
diterima bisa cukup serius, misal kerugian besar. Berbagai cara pengelolaan
risiko :
a. Penghindaran
Cara
paling mudah dan aman untuk mengelola risiko adalah dengan menghindar. Tetapi
cara semacam ini tidak optimal.
Contoh:
jika ingin memperoleh keuntungan dari bisnis, maka mau tidak mau kita harus
keluar dan menghadapi risiko tersebut. Kemudian kita akan mengelola risiko
tersebut.
b. Ditahan (Retention)
Dalam
beberapa situasi, akan lebih baik jika kita menghadapi sendiri risiko tersebut
(menahan risiko tersebut/ risk retention).
c. Diversifikasi
Diversifikasi
berarti menyebar eksposur yang kita miliki sehingga tidak
terkonsentrasi pada satu atau dua eksposur saja.
Contoh:
memegang aset tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam (saham, obligasi,
properti). Jika terjadi kerugian pada satu aset, kerugian tersebut bisa
dikompensasi oleh keuntungan dari aset yang lainnya.
d. Transfer Risiko
Keputusan
mengalihkan risiko adalah dengan cara risiko yang kita terima tersebut kita
alihkan ke tempat lain sebagian. Jika tidak ingin menanggung risiko tertentu,
kita dapat menstransfer risiko tersebut kepada pihak lain yang lebih mampu
menghadapi risiko tersebut.
Contoh:
membeli asuransi kecelakaan. Jika terjadi kecelakaan, perusahaan asuransi akan
menanggung kerugian dari kecelakaan tersebut.
e. Pengendalian
Risiko
Dilakukan
untuk mencegah atau menurunkan probabilitas terjadinya risiko atau kejadian
yang tidak kita inginkan. Keputusan mengontrol risiko adalah dengan cara
melakukan kebijakan antisipasi terhadap timbulnya risiko sebelum risiko itu
terjadi.
Contoh:
untuk mencegah kebakaran, kita memasang alarm asap dibangunan kita. Alarm
merupakan salah satu cara kita mengendalikan risiko kebakaran.
f. Pendanaan
Risiko
Mempunyai
arti bagaimana ‘mendanai’ kerugian yang terjadi jika suatu risiko muncul.
Keputusan pendanaan risiko menyangkut penyediaan sejumlah dana sebagai cadangan
(reserve) guna mengantisipasi timbulnya risiko di kemudian hari seperti
perubahan nilai tukar dolar terhadap mata uang domestik di pasaran.
Contoh:
jika terjadi kebakaran, bagaimana menanggung kerugian akibat kebakaran
tersebut, apakah dari asuransi, ataukah menggunakan dana cadangan. Sebuah
perbankan mempunyai kebijakan harus memiliki cadangan dalam bentuk mata uang
dolar sehingga jumlah perkiraan akan terjadi kenaikan atau perubahan nilai
tukar dapat diantisipasi.
5. Pengambilan keputusan dalam kondisi
beresiko
Pengambilan keputusan dalam kondisi
berisiko adalah pengambilan keputusan dimana terjadi hal-hal sebagai berikut :
Alternatif yang harus dipilih
mengandung lebih dari satu kemungkinan hasil.
Pengambil keputusan memiliki lebih
dari satu alternatif tindakan.
Diasumsikan bahwa pengambil keputusan
mengetahui peluang yang akan terjadi terhadap berbagai tindakan dan hasil.
Risiko terjadi karena hasil
pengumpulan keputusan tidak dapat diketahui dengan pasti, walaupun diketahui
nilai probabilitasnya.
Pada kondisi ini, keadaan alam sama
dengan kondisi tidak paasti, bedanya dalam kondisi ini, ada informasi atau data
yang akan mendukung dalam membuat keputusan, berupa besar atau nilai peluang
terjadinya bermacam-macam keadaan.
Teknik pemecahannya menggunakan konsep
probabilitas, seperti model keputusan probabilistik, model inventori
probabilistik, model antrian probabilistik.
Persoalan keputusan dalam kondisi
berisiko dapat disajikan dalam bentuk matriks pay off atau tabel keputusan (decission
table) sebagai berikut :
Probabilitas Tindakan |
K1 P1 |
k2........... p2........... |
kj........... pj........... |
kn pn |
t1 t2 ti tm |
A11 A21 Ai1 Am1 |
a12 a22 ai2 am2 |
a1j a2j aij amj |
a1n a2n ain amn |
Distribusi probabilitas jumlahnya = 1
atau ditulis :
Pi = P1 + P2 + P3 + ... + Pn = 1
Pi = probabilitas kejadian ke-i (Ki)
ti = kejadian tak pasti j, Pj =
Probabilitas kejadian kj
aij = pay off yang diperoleh dari tindakan ti dan kejadian kj
Teknik Penyelesaian Pengambilan Keputusan Dalam Kondisi Berisiko
1) Nilai harapan (Expected Value)
Nilai harapan adalah jumlah dari
nilai-nilai kemungkinan yang diharapkan terjadi terhadap probabilitas
masing-masing dari suatu kejadian yang tidak pasti.
Dalam bentuk rumus, dituliskan sebagai
berikut :
EV
= Σ aij . Pj
Untuk hal-hal yang sifatnya
menguntungkan, seperti laba, hasil penjualan, penerimaan dan sebagainya, EV
(nilai harapan) dinyatakan dengan expected
pay-off (EP). Untuk hal-hal yang sifatnya merugikan, seperti pengeluaran,
kekalahan, dan sebagainya, EV (nilai harapan) dinyatakan sebagai expected loss (EL).
Dalam pengambilan keputusannya, selalu
diusahakan untuk memilih keputusan dengan nilai harapan yang maksimum, dalam
prakteknya dinyatakan dengan besarnya nilai uang, yaitu expected monetary value (EMV). Dengan demikian rumus diatas dapat
pula ditulis dalam bentuk :
EMV = Σ aij . Pj
Contoh :
Seseorang dihadapkan pada masalah
penyimpanan uangnya, apakah dalam bentuk deposito atau pembelian saham.
Keuntungan yang akan didapatnya bergantung pada laju pertumbuhan ekonomi. Laju
pertumbuhan ekonomi meningkat dengan probabilitas 35% dan menurun 0.65%. Jika
dipilih deposito, keuntungannya adalah 250 juta rupiah pada saat pertumbuhan
ekonomi meningkat dan 175 juta rupiah pada saat menurun. Jika dipilih membeli
saham, keuntungannya adalah 350 juta rupiah pada saat pertumbuhan ekonomi
meningkat dan 125 juta pada saat menurun. Dengan menggunakan nilai harapan payoff terbesar, keputusan yang mana
yang harus diambil?
Jawab :
Probabilitas Tindakan |
Laju
Pertumbuhan Ekonomi |
|
Meningkat 0,35 |
Menurun 0,65 |
|
Deposito |
250 |
175 |
Beli Saham |
350 |
125 |
EPD = 250 (0,35) + 175 (0,65) =
201,25
EPBS = 350 (0,35) + 125 (0,65) =
203,75
Oleh karena itu EP = 203,75 terbesar, maka
diputuskan untuk membeli saham. Didalam jangka panjang, secara rata-rata akan
diperoleh keuntungan (berupa bunga) sebesar 203,75 juta rupiah.
2) Nilai Kesempatan yang Hilang (Opportunity Loss)
Nilai kesempatan yang hilang untuk
suatu hasil adalah sejumlah pay off
yang, oleh karena tidak dipilihnya suatu alternatif/tindakan dengan pay-off terbesar bagi kejadian tidak
pasti yang sebenarnya terjadi.
Untuk menentukan keputusan berdasarkan
nilai kesempatan yang hilang (EOL), secara rasional dipilih dari nilai EOL (expected opportunity loss) yang minimum
(terkecil). Hal ini dimaksudkan untuk menghindari rasa penyesalan/ketidakpuasan
dikemudian hari. Jadi prinsip dasar EOL adalah membuat minimum kerugian yang
disebabkan pemilihan alternatif tertentu.
Untuk menghitung kesempatan yang
hilang (opportunity loss) setiap
peristiwa, pertama kali adalah mengidentifikasikan tindakan terbaik untuk
setiap peristiwa, kemudian mengurangkan pay
off-nya (pay off peristiwa
tersebut) dengan pay off
peristiwa-peristiwa lainnya.
3) Nilai Harapan Informasi Sempurna
Nilai harapan informasi sempurna (expected value of perfect information, EV of PI (EVPI)) adalah selisih antara nilai harapan dengan nilai informasi (expected value with perfect information, EV with PI (EVWPI)) dan nilai harapan tanpa informasi sempurna (expected value without perfect information, EV without PI (EV)).
Dirumuskan :
EV of PI = EV with
PI – EV without PI
EVPI = EVWPI – EV
NHIS = NHTIS – NH
Nilai harapan tanpa informasi sempurna
disebut juga nilai harapan dalam keadaan ketidakpastian.
EVWI (NHTIS) = hasil perkalian antara maksimum baris (nilai pay
off terbesar) dengan probabilitas.
EV (NH) = nilai harapan terbesar dari setiap alternatif atau
tindakan.
EVPI (NHIS) = jumlah maksimum yang dapat dibayarkan oleh
pengambilan keputusan untuk memperoleh informasi sempurna.
Latihan
1) Berikut ini diberikan matriks pay off dari investasi yang dilakukan
oleh sebuah PT Keindra :
Alternatif Investasi |
Prospek Pasar |
||
Cerah (0,30) |
Sedang (0,50) |
Lesu (0,2) |
|
Tanah |
18 |
16 |
11 |
Tabungan |
15 |
15 |
15 |
Saham |
20 |
17 |
-14 |
Berdasarkan nilai moneter (nilai
harapan pay off) terbesar investasi
mana yang akan dipilih ?
2) Sebuah perusahaan dihadapkan pada
persoalan untuk memilih tiga alternatif investasi A, B dan C. Keuntungan yang diperoleh
dari ketiga jenis investasi tersebut tergantung dari situasi pasar, yaitu lesu,
normal dan cerah, masing-masing 15%, 30% dan 55%. Komponen-komponen situasi itu
disajikan pada tabel berikut :
Alternatif Investasi |
Lesu 0,15 |
Normal 0,30 |
Cerah 0,55 |
A |
45.000 |
15.000 |
20.000 |
B |
25.000 |
20.000 |
-10.000 |
C |
35.000 |
60.000 |
50.000 |
Berdasarkan tabel tersebut di atas
jenis investasi manakah yang harus dipilih jika digunakan kriteria opportunity loss (EOL) ?
3). Sebuah perusahaan dihadapkan pada
persoalan untuk memilih tiga alternatif investasi A, B dan C. Keuntungan yang
diperoleh dari ketiga jenis investasi tersebut tergantung dari situasi pasti,
yaitu lesu, normla dan cerah, masing-masing 15%, 30% dan 55%.
Komponen-komponen situasi itu
disajikan pada tabel berikut :
Alternatif Investasi |
Prospek Pasar |
||
Lesu 0,15 |
Normal 0,30 |
Cerah 0,55 |
|
A |
45.000 |
15.000 |
20.000 |
B |
25.000 |
20.000 |
-10.000 |
C |
35.000 |
60.000 |
50.000 |
Berdasarkan data tabel tersebut di
atas, tentukan nilai dari EVPI ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar