Minggu, 16 Maret 2025

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN - PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERESIKO


Pengambilan Keputusan Beresiko

Resiko merupakan penyimpangan dari ekspektasi tingkat pengembalian yang diharapkan, pelaku bisnis selalu mengharapkan perusahaannya akan beroperasi dengan baik dan mendapatkan keuntungan, namun adanya resiko malah dapat mengakibatkan kerugian yang berdampak perusahaan harus memutuskan sesuatu dengan sangat hati-hati dalam mengambil tindakannya. Dalam mengambil keputusan pelaku bisnis sebaiknya juga mempertimbangkan tingkat toleransi terhadap resiko. Upaya pengambilan keputusan inilah yang membedakan individu dari setiap pelaku usaha. Saat ini persaingan bisnis di Indonesia sangatlah ketat. Tidak heran banyak perusahaan yang tumbuh, berkembang dan sukses. Tapi ada juga perusahaan yang mengalami penurunan bahkan sampai gulung tikar.

Untuk mengatasi masalah yang timbul dalam persaingan bisnis, salah satu yang harus dapat dilakukan perusahaan yaitu harus mampu mengendalikan operasionalnya dengan baik. Karena jika terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan, akan mengakibatkan perusahaan tidak mampu dalam berkompetisi dengan persaisang bisnis yang tidak mungkin berhenti, hingga akhirnya bangkrut.

Pada dasarnya manajemen harus memutuskan bagaimana mengelola sumber daya ekonomi sesuai dengan tujuan perusahaan. Salah satu tujuan perusahaan adalah untuk mencapai laba yang semaksimal mungkin. Untuk mencapai tujuan tersebut maka, sumber daya ekonomi tersebut harus digunakan secara efisien dan efektif. Efektif berarti apabila sumber daya tersebut benar – benar digunakan untuk tujuan perusahaan yaitu untuk mencapai laba semaksimal mungkin. Sedangkan efisien berarti apabila sumber daya ekonomi tersebut bebas dari pemborosan.


Pengambilan Keputusan Dalam Kondisi Berisiko   

Pengambilan keputusan dalam kondisi berisiko adalah suatu kejadian atau keadaan dimana terjadi dua kemungkinan hasil (berhasil/gagal) yang akan terjadi jika mengambil suatu keputusan dalam suatu peristiwa.


Pengertian Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Beresiko

Pengambilan keputusan dalam kondisi berisiko adalah pengambilan keputusan dimana terjadi hal-hal sebagai berikut :

  1. Alternatif yang harus dipilih megandung lebih dari satu kemungkinan hasil.
  2. Pengambilan keputusan memiliki lebih dari satu alternatif tindakan.
  3. Diasumsikan bahwa pengambil keputusan mengetahui peluang yang akan terjadi terhadap berbagai tindakan dan hasil.
  4. Risiko terjadi karena hasil pengumpulan keputusan tidak dapat diketahui dengan pasti, walaupun diketahui nilai probabilitasnya.
  5. Pada kondisi ini, keadaan alam sama dengan kondisi tidak pasti. Bedanya dalam kondisi ini, ada informasi atau data yang akan mendukung dalam membuat keputusan, berupa besar atau nilai peluang terjadinya bermacam-macam keadaan.
  6. Teknik pemecahannya menggunakan konsep probabilitas, seperti model keputusan probabilistik, model inventori probabilistik, model antrian probabilistik.

1. Definisi resiko, manajemen resiko, manajemen resiko keputusan

a.

Konsepsi Resiko.

Risiko merupakan sesuatu, dalam hal ini yang akan diterima atau ditanggung oleh seseorang sebagai konsekuensi atau akibat dari suatu tindakan.


Berikut ini diberikan beberapa arti lain dari risiko :

  • Risiko adalah kesempatan timbulnya kerugian.
  • Risiko adalah kemungkinan timbulnya kerugian.
  • Risiko adalah ketidakpastian.
  • Risiko adalah penyimpangan hasil actual dari hasil yang diharapkan.
  • Risiko adalah suatu hasil yang berbeda dari hasil yang diharapkan.


b.Kondisi berisiko adalah suatu keadaaan yang memenuhi beberapa syarat, yaitu sebagai berikut:

  • Ada alternatif tindakan yang fisibel (dapat dilakukan).
  • Ada kemungkinan kejadian yang tidak pasti dengan masing-masing nilai probabilitas.
  • Memiliki nilai “pay off” sebagai hasil kombinasi suatu tindakan dan kejadian tidak pasti tertentu.


Pay off merupakan nilai yang menunjukan hasil yang diperoleh dari kombinasi suatu alternative tindakan dengan kejadian tidak pasti tertentu. Pay off dapat berupa nilai pembayaran, laba, kenaikan pangsa pasar, kekalahan, penjualan, kemenangan, dan sebagainya.


c. Expected Pay Off (EP)

Dengan cara ini kita memilih alternatif dengan nilai harapan pay off terbesar (maximum expected pay off) atau nilai harapan kekalahan terkecil (minimum expected loss). Hal yang sifatnya menguntungkan (laba, hasil penjualan, penerimaan), E(X) (nilai harapan) dinyatakan dengan Expected Pay off (EP).


d. Expected Lost

Hal yang sifatnya merugikan (pengeluaran, kekalahan), E(X) (nilai harapan) dinyatakan sebagai Expected Loss (EL).


e. Expected Monetary Value (EMV)

Dalam pengambilan keputusan selalu diusahakan untuk memilih keputusan dengan nilai harapan yang maksimum. Dalam prakteknya dinyatakan dengan besarnya nilai uang yaitu Expected Monetary Value (EMV).


f. Pengertian Manajemen Risiko

Apa itu manajemen risiko? Pengertian manajemen risiko adalah suatu proses identifikasi, analisis, penilaian, pengendalian, dan upaya menghindari, meminimalisir, atau bahkan menghapus risiko yang tidak dapat diterima.

Dalam hal ini risiko berhubungan dengan pendekatan atau metodologi dalam menghadapi ketidakpastian dalam bisnis. Dalam KBBI arti kata risiko adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu tindakan. Ketidakpastian ini bisa berupa ancaman, pengembangan strategi, dan mitigasi risiko.

Dalam perusahaan, manajemen risiko (risk management) adalah suatu proses perencanaan, pengaturan, pemimpinan, dan pengontrolan aktivitas sebuah organisasi untuk meminimalisir resiko pendapatan perusahaan.


2. Tahap melaksanakan manajemen resiko

Untuk mengimplementasikan manajemen risiko secara komprehensif ada beberapa tahap yang harus dilaksanakan oleh suatu perusahaan, yaitu:

a. Identifikasi risiko

Identifikasi risiko adalah kegiatan mengidentifikasi semua risiko usaha yang dihadapi, baik risiko yang bersifat spekulatif maupun risiko yang sifatnya murni. Identifikasi risiko dilakukan untuk mengidentifikasi risiko-risiko apa saja yang dihadapi oleh suatu organisasi. Segala informasi yang berkenaan dengan usaha dikumpulkan kemudian dianalisis, bagian-bagian mana yang sekiranya akan muncul sebagai penyebab kemungkinan terjadinya suatu kerugian.

Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan melakukan tindakan berupa mengidentifikasi setiap bentuk risiko yang dialami perusahaan.


b. Mengidentifikasi bentuk-bentuk risiko

Pada tahap ini diharapkan pihak manajemen perusahaan telah mampu menemukan bentuk dan format risiko yang dimaksud.

1) Menempatkan ukuran-ukuran risiko

Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan sudah menempatkan ukuran atau skala yang dipakai, termasuk rancangan model metodologi penelitian yang akan digunakan.

2) Menempatkan alternatif-alternatif

Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan telah melakukan pengolahan data.

3) Menganalisis setiap alternatif

Pada tahap ini dimana setiap alternatif yang ada selanjutnya dianalisis dan dikemukakan berbagai sudut pandang serta efek-efek yang mungkin timbul.

4) Memutuskan satu alternatif

Pada tahap ini setelah berbagai alternatif dipaparkan dan dijelaskan baik dalam bentuk lisan dan tulisan oleh para manajemen perusahaan maka diharapkan pihak manajer perusahaan sudah memiliki pemahaman secara khusus dan mendalam.

5) Melaksanakan alternatif yang dipilih

Pada tahap ini setelah alternatif dipilih dan ditegaskan serta dibentuk tim untuk melaksanakan ini, maka artinya manajer perusahaan sudah mengeluarkan surat keputusan (SK) yang dilengkapi dengan rincian biaya.

6) Mengontrol alternatif yang dipilih tersebut

Pada tahap ini alternatif yang dipilih telah dilaksanakan dan pihak tim manajemen beserta para manajer perusahaan.

7) Mengevaluasi jalannya alternatif yang dipilih

Evaluasi dan pengukuran risiko adalah kegiatan untuk menilai bagian-bagian yang diperkirakan akan menjadi penyebab terjadinya suatu kerugian. Tujuan evaluasi risiko adalah untuk memahami karakteristik risiko dengan lebih baik. Jika kita memperoleh pemahaman yang lebih baik, maka risiko akan lebih mudah dikendalikan. Evaluasi yang lebih sistematis dilakukan untuk ‘mengukur’ risiko tersebut.

Pada tahap ini setelah alternatif dilaksanakan dan kontrol dilakukan maka selanjutnya pihak tim manajemen secara sistematis melaporkan kepada pihak manajer perusahaan.


3. Tipe resiko

Secara umum risiko dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a. Risiko Murni (pure risk)

Risiko di mana kemungkinan kerugian ada, tetapi kemungkinan keuntungan tidak ada (yang hanya ada kerugian).

Contoh: risiko kecelakaan, kebakaran, banjir, dan semacamnya (risiko-risiko yang bergerak pada satu arah saja yaitu arah kerugian).

Asuransi biasanya lebih banyak berurusan dengan risiko murni.

Risiko murni (pure risk) dapat dikelompokkan pada 3 (tiga) tipe risiko, yaitu:

1) Risiko aset fisik

Merupakan risiko yang berakibat timbulnya kerugian pada aset fisik suatu perusahaan.

Contoh: kebakaran, banjir, gempa, tsunami, gunung meletus, dll.

2) Risiko karyawan

Merupakan risiko karena apa yang dialami oleh karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut.

Contoh: kecelakaan kerja sehingga aktivitas perusahaan terganggu.

3) Risiko Legal

Merupakan risiko dalam bidang kontrak yang mengecewakan atau kontrak tidak berjalan sesuai dengan rencana. Risiko ini akibat kelemahan masalah hukum, mulai dari tuntutan hukum, tidak adanya kerangka hukum, dan kelemahan perjanjian.

Contoh: perselisihan dengan perusahaan lain sehingga adanya persoalan seperti ganti rugi.\

 

b. Risiko Spekulatif (speculative risk)

Risiko dimana kita mengharapkan terjadinya kerugian dan juga keuntungan. Kemungkinan kerugian ada, tetapi disamping itu juga terdapat kemungkinan untung. Risiko ini biasanya berkaitan dengan risiko usaha atau bisnis.

Contoh: perjudian, pembelian saham, valuta asing, saving dalam bentuk emas, perubahan tingkat suku bunga perbankan.

Risiko spekulatif (speculative risk) dapat dikelompokan sebagai berikut:

1) Risiko pasar

Merupakan risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar yang bervariasi, seperti akibat suku bunga, nilai tukar, dan komoditas.

Contoh: harga saham mengalami penurunan sehingga menimbulkan kerugian.

2) Risiko kredit/investasis

Merupakan risiko yang terjadi karena counter party (debitur) gagal memenuhi kewajibannya kepada perusahaan.

Contoh: timbulnya kredit macet, persentase piutang meningkat.

3) Risiko likuiditas

Merupakan risiko karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan kas/ketidakmampuan dalam menempatkan kewajiban (liability).

Contoh: kepemilikan kas menurun, sehingga tidak mampu membayar hutang secara tepat, menyebabkan perusahaan harus menjual aset yang dimilikinya.

4) Risiko operasional

Merupakan risiko yang disebabkan pada kegiatan operasional yang tidak berjalan dengan lancar.

Contoh: terjadi kerusakan pada komputer karena berbagai hal termasuk terkena virus.

5) Risiko strategi

Risiko yang timbul akibat lemahnya pembentukan dan penerapan strategi perusahaan, lemahnya pengambilan keputusan dalam dunia bisnis atau kesenjangan reaksi dalam menghadapi perubahan. Risiko ini dikelola pada level direksi dan memerlukan perencanaan strategi.


Beberapa tipe dari risiko yang mungkin akan muncul adalah sebagai berikut :

  • Strategic Risk, Strategic risk adalah risiko yang mungkin muncul ketika strategi dari perusahaan menjadi tidak efektif dan akhirnya perusahaan mengalami kesulitan dalam mencapai tujuannya. Permasalahan seperti ini bisa saja muncul ketika adanya perubahan teknologi, adanya kompetitor baru yang cukup kuat, perubahan pada permintaan pasar atau perubahan lainnya yang memiliki dampak besar.
  • Compliance Risk, Risiko ini dapat dikatakan sebagai risiko yang muncul dari luar. Perubahan yang selalu terjadi akan mengharuskan kita melakukan penyesuaian terhadap perubahan tersebut. Contohnya saja ketika sebuah produk akan diekspor keluar negeri. Tentunya produk yang dieskpor haruslah memenuhi peraturan yang ada pada negara tujuan yang tentunya memiliki risiko yang harus diminimalisir dengan baik.
  • Operational Risk, Selain pada lingkungan eksternal, risiko juga dapat muncul dari dalam atau internal. Operational risk adalah risiko yang muncul dari operasional harian. Risiko ini bisa ditimbulkan dari kesalahan teknis, atau kesalahan yang dilakukan oleh pegawai maupun proses yang ada.
  • Financial Risk, Sebagian dari kategori risiko yang ada memang menyebabkan membengkaknya biaya yang harus dibayarkan. Akan tetapi tipe dari risiko ini menspesifikkannya pada alur uang yang masuk dan keluar dan kemungkinan adanya ketidakstabilan keuangan secara tiba-tiba.
  • Reputational Risk, Reputasi adalah segalanya dan risiko yang mengancamnya masuk dalam tipe ini. Jika reputasi yang baik rusak, maka bisa saja dapat mempengaruhi pemasukan dari perusahaan dan mengurangi kepercayaan dari pelanggan. Selain itu stakeholder luar akan enggan melakukan hubungan apapun terhadap perusahaan hingga dapat menyebabkan kebangkrutan pada perusahaan. Risiko ini dapat berbentuk penarikan masal produk cacat atau gagal, gugatan hukum yang cukup besar, ataupun bahkan review buruk yang terjadi secara berantai.

 

4.Mengelola resiko

Pengelolaan Risiko, Setelah analisis dan evaluasi risiko, langkah selanjutnya dalam manajemen risiko adalah mengelola risiko.

Risiko harus dikelola. Jika organisasi gagal mengelola risiko, maka konsekuensi yang diterima bisa cukup serius, misal kerugian besar. Berbagai cara pengelolaan risiko :

a. Penghindaran

Cara paling mudah dan aman untuk mengelola risiko adalah dengan menghindar. Tetapi cara semacam ini tidak optimal.

Contoh: jika ingin memperoleh keuntungan dari bisnis, maka mau tidak mau kita harus keluar dan menghadapi risiko tersebut. Kemudian kita akan mengelola risiko tersebut.

 

b. Ditahan (Retention)

Dalam beberapa situasi, akan lebih baik jika kita menghadapi sendiri risiko tersebut (menahan risiko tersebut/ risk retention).

 

c. Diversifikasi

Diversifikasi berarti menyebar eksposur yang kita miliki sehingga tidak terkonsentrasi  pada satu atau dua eksposur saja.

Contoh: memegang aset tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam (saham, obligasi, properti). Jika terjadi kerugian pada satu aset, kerugian tersebut bisa dikompensasi oleh keuntungan dari aset yang lainnya.

 

d. Transfer Risiko

Keputusan mengalihkan risiko adalah dengan cara risiko yang kita terima tersebut kita alihkan ke tempat lain sebagian. Jika tidak ingin menanggung risiko tertentu, kita dapat menstransfer risiko tersebut kepada pihak lain yang lebih mampu menghadapi risiko tersebut.

Contoh: membeli asuransi kecelakaan. Jika terjadi kecelakaan, perusahaan asuransi akan menanggung kerugian dari kecelakaan tersebut.

 

e. Pengendalian Risiko

Dilakukan untuk mencegah atau menurunkan probabilitas terjadinya risiko atau kejadian yang tidak kita inginkan. Keputusan mengontrol risiko adalah dengan cara melakukan kebijakan antisipasi terhadap timbulnya risiko sebelum risiko itu terjadi.

Contoh: untuk mencegah kebakaran, kita memasang alarm asap dibangunan kita. Alarm merupakan salah satu cara kita mengendalikan risiko kebakaran.

 

f. Pendanaan Risiko

Mempunyai arti bagaimana ‘mendanai’ kerugian yang terjadi jika suatu risiko muncul. Keputusan pendanaan risiko menyangkut penyediaan sejumlah dana sebagai cadangan (reserve) guna mengantisipasi timbulnya risiko di kemudian hari seperti perubahan nilai tukar dolar terhadap mata uang domestik di pasaran.

Contoh: jika terjadi kebakaran, bagaimana menanggung kerugian akibat kebakaran tersebut, apakah dari asuransi, ataukah menggunakan dana cadangan. Sebuah perbankan mempunyai kebijakan harus memiliki cadangan dalam bentuk mata uang dolar sehingga jumlah perkiraan akan terjadi kenaikan atau perubahan nilai tukar dapat diantisipasi.


5. Pengambilan keputusan dalam kondisi beresiko


Pengambilan keputusan dalam kondisi berisiko adalah pengambilan keputusan dimana terjadi hal-hal sebagai berikut :

Alternatif yang harus dipilih mengandung lebih dari satu kemungkinan hasil.

Pengambil keputusan memiliki lebih dari satu alternatif tindakan.

Diasumsikan bahwa pengambil keputusan mengetahui peluang yang akan terjadi terhadap berbagai tindakan dan hasil.

Risiko terjadi karena hasil pengumpulan keputusan tidak dapat diketahui dengan pasti, walaupun diketahui nilai probabilitasnya.

Pada kondisi ini, keadaan alam sama dengan kondisi tidak paasti, bedanya dalam kondisi ini, ada informasi atau data yang akan mendukung dalam membuat keputusan, berupa besar atau nilai peluang terjadinya bermacam-macam keadaan.

Teknik pemecahannya menggunakan konsep probabilitas, seperti model keputusan probabilistik, model inventori probabilistik, model antrian probabilistik.


Persoalan keputusan dalam kondisi berisiko dapat disajikan dalam bentuk matriks pay off atau tabel keputusan (decission table) sebagai berikut :

 Matriks Pay off / Tabel keputusan

Kejadian

Probabilitas

Tindakan

K1

P1

k2...........

p2...........

kj...........

pj...........

kn

pn

t1

t2

ti

tm

A11

A21

Ai1

Am1

a12

a22

ai2

am2

a1j

a2j

aij

amj

a1n

a2n

ain

amn


Distribusi probabilitas jumlahnya = 1 atau ditulis :

Pi = P1 + P2 + P3 + ... + Pn = 1

Pi = probabilitas kejadian ke-i (Ki)

ti = kejadian tak pasti j, Pj = Probabilitas kejadian kj

aij = pay off yang diperoleh dari tindakan ti dan kejadian kj


Teknik Penyelesaian Pengambilan Keputusan Dalam Kondisi Berisiko

1) Nilai harapan (Expected Value)

Nilai harapan adalah jumlah dari nilai-nilai kemungkinan yang diharapkan terjadi terhadap probabilitas masing-masing dari suatu kejadian yang tidak pasti.

Dalam bentuk rumus, dituliskan sebagai berikut :

          EV = Σ aij . Pj

Untuk hal-hal yang sifatnya menguntungkan, seperti laba, hasil penjualan, penerimaan dan sebagainya, EV (nilai harapan) dinyatakan dengan expected pay-off (EP). Untuk hal-hal yang sifatnya merugikan, seperti pengeluaran, kekalahan, dan sebagainya, EV (nilai harapan) dinyatakan sebagai expected loss (EL).

Dalam pengambilan keputusannya, selalu diusahakan untuk memilih keputusan dengan nilai harapan yang maksimum, dalam prakteknya dinyatakan dengan besarnya nilai uang, yaitu expected monetary value (EMV). Dengan demikian rumus diatas dapat pula ditulis dalam bentuk :

          EMV = Σ aij . Pj 

Contoh :

Seseorang dihadapkan pada masalah penyimpanan uangnya, apakah dalam bentuk deposito atau pembelian saham. Keuntungan yang akan didapatnya bergantung pada laju pertumbuhan ekonomi. Laju pertumbuhan ekonomi meningkat dengan probabilitas 35% dan menurun 0.65%. Jika dipilih deposito, keuntungannya adalah 250 juta rupiah pada saat pertumbuhan ekonomi meningkat dan 175 juta rupiah pada saat menurun. Jika dipilih membeli saham, keuntungannya adalah 350 juta rupiah pada saat pertumbuhan ekonomi meningkat dan 125 juta pada saat menurun. Dengan menggunakan nilai harapan payoff terbesar, keputusan yang mana yang harus diambil?


Jawab :

Alternatif

Probabilitas

Tindakan

Laju Pertumbuhan Ekonomi

Meningkat

0,35

Menurun

0,65

Deposito

250

175

Beli Saham

350

125

 

EPD = 250 (0,35) + 175 (0,65) = 201,25

EPBS = 350 (0,35) + 125 (0,65) = 203,75

Oleh karena itu EP = 203,75 terbesar, maka diputuskan untuk membeli saham. Didalam jangka panjang, secara rata-rata akan diperoleh keuntungan (berupa bunga) sebesar 203,75 juta rupiah.

 

2) Nilai Kesempatan yang Hilang (Opportunity Loss)

Nilai kesempatan yang hilang untuk suatu hasil adalah sejumlah pay off yang, oleh karena tidak dipilihnya suatu alternatif/tindakan dengan pay-off terbesar bagi kejadian tidak pasti yang sebenarnya terjadi.

Untuk menentukan keputusan berdasarkan nilai kesempatan yang hilang (EOL), secara rasional dipilih dari nilai EOL (expected opportunity loss) yang minimum (terkecil). Hal ini dimaksudkan untuk menghindari rasa penyesalan/ketidakpuasan dikemudian hari. Jadi prinsip dasar EOL adalah membuat minimum kerugian yang disebabkan pemilihan alternatif tertentu.

Untuk menghitung kesempatan yang hilang (opportunity loss) setiap peristiwa, pertama kali adalah mengidentifikasikan tindakan terbaik untuk setiap peristiwa, kemudian mengurangkan pay off-nya (pay off peristiwa tersebut) dengan pay off peristiwa-peristiwa lainnya.


3) Nilai Harapan Informasi Sempurna

Nilai harapan informasi sempurna (expected value of perfect information, EV of PI (EVPI)) adalah selisih antara nilai harapan dengan nilai informasi (expected value with perfect information, EV with PI (EVWPI)) dan nilai harapan tanpa informasi sempurna (expected value without perfect information, EV without PI (EV)).

Dirumuskan :

          EV of PI = EV with PI – EV without PI

          EVPI = EVWPI – EV

          NHIS = NHTIS – NH

Nilai harapan tanpa informasi sempurna disebut juga nilai harapan dalam keadaan ketidakpastian.

EVWI (NHTIS) = hasil perkalian antara maksimum baris (nilai pay off terbesar) dengan probabilitas.

EV (NH) = nilai harapan terbesar dari setiap alternatif atau tindakan.

EVPI (NHIS) = jumlah maksimum yang dapat dibayarkan oleh pengambilan keputusan untuk memperoleh informasi sempurna.


Latihan

1) Berikut ini diberikan matriks pay off dari investasi yang dilakukan oleh sebuah PT Keindra :

Alternatif

Investasi

Prospek Pasar

Cerah

(0,30)

Sedang

(0,50)

Lesu

(0,2)

Tanah

18

16

11

Tabungan

15

15

15

Saham

20

17

-14

 

Berdasarkan nilai moneter (nilai harapan pay off) terbesar investasi mana yang akan dipilih ?

 

2) Sebuah perusahaan dihadapkan pada persoalan untuk memilih tiga alternatif investasi A, B dan C. Keuntungan yang diperoleh dari ketiga jenis investasi tersebut tergantung dari situasi pasar, yaitu lesu, normal dan cerah, masing-masing 15%, 30% dan 55%. Komponen-komponen situasi itu disajikan pada tabel berikut :

 

Prospek Pasar

Alternatif

Investasi

Lesu

0,15

Normal

0,30

Cerah

0,55

A

45.000

15.000

20.000

B

25.000

20.000

-10.000

C

35.000

60.000

50.000

 

Berdasarkan tabel tersebut di atas jenis investasi manakah yang harus dipilih jika digunakan kriteria opportunity loss (EOL) ?

 

3). Sebuah perusahaan dihadapkan pada persoalan untuk memilih tiga alternatif investasi A, B dan C. Keuntungan yang diperoleh dari ketiga jenis investasi tersebut tergantung dari situasi pasti, yaitu lesu, normla dan cerah, masing-masing 15%, 30% dan 55%.

Komponen-komponen situasi itu disajikan pada tabel berikut :

 

 

Alternatif

Investasi

Prospek Pasar

Lesu

0,15

Normal

0,30

Cerah

0,55

A

45.000

15.000

20.000

B

25.000

20.000

-10.000

C

35.000

60.000

50.000

 

Berdasarkan data tabel tersebut di atas, tentukan nilai dari EVPI ?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN - PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERESIKO

Pengambilan Keputusan Beresiko Resiko merupakan penyimpangan dari ekspektasi tingkat pengembalian yang diharapkan, pelaku bisnis selalu me...