Senin, 01 Oktober 2018

MASA DEPAN BISA BERBEDA JAUH DARI PERKIRAAN

Masa depan bisa berbeda jauh dari perkiraan



● Kisah 1 :

Nokia menolak tawaran Android di tahun 2011 karena dianggap sebagai system newbie yang tidak lebih baik dari Windows yang mereka gunakan dan tidak akan sukses.

Yahoo menolak tawaran Google di tahun 2002 dengan alasan kemahalan dan saat itu reputasi Google masih dianggap "anak bawang" oleh Yahoo.

○ Fakta yang terjadi kemudian :

Nokia tenggelam dalam sekejap oleh pamor Android. Hal yang sama terjadi pada Yahoo, yang terlibas mentah mentah bila dibandingkan dengan Google, terutama sekarang ini.

☆ Pelajaran yang bisa dipetik :
Sukses berarti punya keberanian mengambil resiko, kebersediaan mengikuti perubahan yang ada, kebersediaan untuk beradaptasi, dan memutuskan dengan analisis yang tepat TANPA harus merendahkan orang lain. Seseorang yang kita anggap lebih rendah dari kita sekarang, bisa jadi akan menjadi jauh lebih besar di masa depan.

● Kisah 2 :

Facebook memutuskan meng-akuisisi Whatsapp (2014) dan Instagram (2012), yang sebelumnya adalah kompetitor, walau saat itu baru merintis dan berada jauh di bawah Facebook.

○ Fakta yang terjadi kemudian :
Facebook, Whatsapp dan Instagram adalah 3 raksasa aplikasi social media yang tidak terkalahkan sekarang ini dengan value akumulatif sekitar lebih dari 1000 trilyun.

☆ Pelajaran yang bisa diambil :
Sukses itu menjadi lebih kuat lagi dengan merangkul pesaing,  menjadikannya kolega dan bersama-sama ber-inovasi menyatukan goal dan tujuan. Kadang menganggap kompetitor sebagai musuh yang harus dijauhi, tidak sepenuhnya benar.

● Kisah 3 :

Bill Gates mendirikan Microsoft di usia 21 tahun, Mark Zuckerberg mendirikan Facebook di usia 22, Jack Ma mendirikan Alibaba di usia 35, demikian halnya dengan Jeff Bezos mendirikan Amazon di usia 35. Sementara Ray Kroc memulai McDonalds di usia 52, John Pemberton menemukan Coca Cola di usia 55 dan Harland Sanders dengan KFC-nya di usia 65.

○ Fakta yang terjadi kemudian:
Semua perusahaan tersebut di atas, sekarang ini adalah perusahaan raksasa dan super power di dunia.

☆ Pelajaran yang bisa diambil :
Usia hanyalah angka. Jangan jadikan usia sebagai alasan bahwa anda tidak mampu, entah karena terlalu muda, atau terlalu tua. Karena kemudian psikologi anda akan mulai menciptakan batasan, bagi anda, untuk mencapai goal, mimpi dan cita cita, di hidup anda yang hanya 1 kali ini.

● Kisah 4 :
Brenda Barnes, CEO Sara Lee, mengawali karirnya sebagai seorang waitress restaurant siap saji.
Indra Noyii, CEO Pepsi.co mengawali karirnya sebagai operator produksi di sebuah pabrik kimia Jhonson&Jhonson di India.

○ Fakta yang terjadi kemudian :
2 nama tersebut di atas, disebut Forbes sebagai 2 wanita paling powerful dan berpengaruh besar pada dunia bisnis sekarang ini.

☆ Pelajaran yang bisa diambil:
Tidak satu orang pun bisa memprediksi masa depan. Akan kecil atau besar masa depan anda, semua ada di tangan anda dan anda yang meng-kontrol. Semua harus dibarengi dengan kerja keras tentunya. Bahkan kadang Super Keras, hingga jatuh bangun berdarah darah.

●Kisah 5 :

Perusahaan produsen luxury car, Lamborghini, bisa ada karena "balas dendam" seorang pembuat traktor yang ditertawakan dan dihina, oleh Enzo Ferari, pendiri Brand Luxury Car, Ferari.

○ Fakta yang terjadi kemudian:
Lamborgini dianggap lebih prestisius dan memiliki harga yang lebih mahal dibanding Ferari, walaupun lebih muda dan keduanya adalah Luxury Car Brand

☆ Pelajaran yang bisa diambil :
Menerima hinaan dan cemoohan orang lain dengan lapang dada, akan menjadi motivasi besar bagi kita untuk melakukan pembuktian bahwa kita mampu lebih sukses dari orang yang menghina kita. Dan saat kesuksesan kita justru berada melampaui si penghina, maka proses "balas dendam" kita berarti "sangat berhasil dan terasa sangat nikmat". Menang banyak broooo...

Kesimpulan :
Teruslah bekerja keras dan pantang menyerah. Gunakan waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak pernah akan kembali. Jangan suka nyinyir kepada orang lain dan Jangan pernah takut dengan kegagalan. Lakukan semua hal yang menyenangkan buat anda. Ingat... hidup hanya sekali. Dan tentunya... tetap semangat.

Minggu, 08 April 2018

7 KUNCI SUKSES BISNIS OLAHRAGA



Banyak orang ketika gagal, menyalahkan bisnis olahraga yang menjadi hobi kita… Yaa susah memasarkannya… membernya nya susah ekonominya, produk - produknya mahal…Dan terus mencari-cari kesalahan lainnya..

Percayalah, ketika orang menyalahkan sesuatu, maka sesungguhnya orang itu tidak belajar dan tidak membuat hidupnya menjadi lebih baik.

Ketika orang melakukan kesalahan dan intropeksi maka orang itu akan memperbaiki diri dan meningkatkan diri demikian sehingga orang itu pasti sukses.


7 Resep Sukses di Bisnis Olahraga

1. Rubah Mindset
Tidak ada kata gagal, yang ada hanya Sukses atau belajar dengan perubahan mindset ini maka anda dipastikan sukses, ingat sukses tidak dapat diraih dengan cara – cara instan, sukses juga membutuhkan proses pajang.

2. Punya Tujuan
Tujuan Anda harus tertulis dan sangat jelas terukur dan punya jeda waktu singkatannya Smart, Kenapa kita harus mempunyai tujuan ?,  jawabnya… karena kita harus mencapai target / goal.
Seperti cerita orang naik taxi…Tujuannya harus jelas karena ada harga yg harus dibayar sesuai dengan tujuannya.

3. Alasan sangat Kuat
Resep sukses selanjutnya adalah Anda harus mempunyai alasan yang sangat kuat… Kenapa Anda harus berhasil ?
Kenikmatan apa jika Anda meraih peringkat demi peringkat Cukup Berhasil, berhasil, Sangat Berhasil… dst ?

Kesulitan dan masalah apa jika anda tidak menjadi apa-apa ? Harus ditulis sedemikian rinci nya sehingga menjadi alasan sangat kuat kenapa anda harus sukses.

4. Learn From The Best
Bukan hanya melakukan yang terbaik, tapi belajar dari yang terbaik dan lakukan yang terbaik . Belajar dari orang terbaik di bidang Sport Network Marketing dan tiru cara nya.

Inilah cara tercepat untuk mencapai kesuksesan. Apakah pasti berhasil ?

Belum tentu… Tapi pasti jauh lebih baik daripada ngotot terus belajar dan mendengarkan dari mereka yang gagal. Belajar dari Leader-leader Sport Network Marketing yang sudah sukses.

5. Action & Fokus
Tanpa tindakan, tujuan anda hanya menjadi mimpi, tidak usah memikirkan apakah saya melangkah banyak atau tidak. Percaya langkah pertama anda akan merubah seluruh kehidupan Anda dan jangan lupa fokus.

6. Trial & Error
Mana dari tindakan kita mendekatkan kepada tujuan kita dan mana tindakan kita yang menjauhkan dari tujuan kita. Selalu coba dan ukur… Apakah cara prospek ini berhasil atau tidak.


7. Tangguh Tekun Ulet
Orang yang sukses di Bisnis Sport adalah orang yang sangat tangguh. Tidak peduli ketika banyak orang mentertawakan dan menganggap remeh impian mereka. Orang-orang ini terus melakukan tindakan yang menuju impian mereka.

Kita pasti bisa sukses bersama hobi kita sebagai karateka dan pelatih karateka.




Octogonal Nunchaku - Okinawa Style
IDR. 175.000,-
WA : +62857-1818-7170


Sabtu, 10 Februari 2018

PENDIDIKAN YANG MENGHUKUM INDONESIA

PENDIDIKAN  YANG MENGHUKUM INDONESIA
Oleh: Rhenald Kasali




Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal, dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya, tulisan itu buruk. Logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat.

“Maaf, Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak
anaknya dididik di sini,” lanjutnya.

“Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!”, dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam.

Padahal, saat menempuh ujian program doktor di luar negeri, saya dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan para dosen penguji memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun, suasana ujian dibuat sangat bersahabat.

Seorang penguji bertanya, sedangkan penguji yang lainnya tidak ikut menekan. Melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan
kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Etikanya, seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan. Tapi yang sering terjadi di tanah air justru penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya.

Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukannya melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul.

Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga cenderung menguji dengan cara menekan. Ada semacam unsur balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Lantas saya berpikir, pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakter hasil didikan guru-gurunya sangat kuat: yaitu karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu, saya pun mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa bersalah karena telah memberinya penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya justru mengatakan bahwa “gurunya salah”. Kini, saya mampu melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan rasa takut?

Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: Rotan pemukul, dilempar kapur atau penghapus oleh guru, setrap, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata ancaman: Awas…; Kalau…; Nanti…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin membuat kita lebih disiplin. Namun, juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.

Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari. atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, kecerdasan m anusia dapat tumbuh, tetapi sebaliknya juga dapat menurun.

Ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi, juga ada orang yang “tambah pintar” dan ada pula orang yang “tambah bodoh”.

Mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan.

Bantulah anak Indonesia untuk maju.

Semoga bacaan ini, bisa bantu temen2 tentang makna mendidik..
Mendidik adalah utk merangsang anak agar maju,

Membantu menemukan potensi terbaik anak dan mengembangkannya,
Menjadikan anak berbudi pekerti yang baik.

SALAM PERUBAHAN POLA PIKIR

Senin, 01 Januari 2018

SEKOLAH KNOWING Vs SEKOLAH & BEING

KITA SERING MENGELUHKAN OUT PUT PENDIDIKAN KITA, MUNGKIN INI BISA JADI JAWABANNYA, RENUNGKANLAH

SEKOLAH 'KNOWING' vs SEKOLAH 'BEING'

Mamang Firmansyah, PATRON Architects

Suatu hari saya kedatangan seorang tamu dr Eropa. Saya menawarkan kepadanya me-lihat2 objek wisata kota Jakarta.

Pada saat kami ingin menyeberang jalan, teman saya ini selalu berusaha untuk mencari zebra cross.

Berbeda dengan saya dan orang Jakarta yang lain, dengan mudah menyeberang dimana saja sesukanya.

Teman saya tetap tidak terpengaruh oleh situasi. Dia terus mencari zebra cross setiap kali akan menyeberang Padahal di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dengan zebra cross.

Yang lebih memalukan,_ _meskipun sudah ada zebra cross tetap saja para pengemudi tancap gas, tidak mau mengurangi kecepatan guna memberi kesempatan pada para penyeberang.

Teman saya geleng2 kepala mengetahui perilaku masyarakat kita.

Akhirnya saya coba menanyakan pandangan teman saya ini mengenai fenomena menyeberang jalan tadi.

Saya bertanya mengapa orang2 di negara kami menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah untuk menyeberang jalan.

Sementara dia selalu konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan zebra cross

Pelan-pelan dia menjawab pertanyaan saya, "It's all happened because of The Education System."

Wah, bukan main kagetnya saya mendengar jawaban teman saya.  Apa hubungan menyeberang jalan sembarangan dengan sistem pendidikan?

Dia melanjutkan penjelasannya,
"Di dunia ini ada 2 jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yang hanya menjadikan anak2 kita menjadi makhluk 'Knowing'  atau sekedar tahu saja, sedangkan yang kedua sistem pendidikan yang mencetak anak - anak menjadi makhluk 'Being.

Apa maksudnya ?

Maksudnya, sekolah hanya bisa mengajarkan banyak hal untuk diketahui para siswa. Sekolah tidak mampu membuat siswa mau melakukan apa yang diketahui sebagai bagian dari kehidupannya.

Anak-anak tumbuh hanya menjadi 'Makhluk Knowing', hanya sekedar 'mengetahui' bahwa :

Zebra cross adalah tempat menyeberang,

Tempat sampah adalah untuk menaruh sampah.

Tapi mereka tetap menyeberang dan membuang sampah sembarangan.

Sekolah semacam ini biasanya mengajarkan banyak sekali mata pelajaran. Tak jarang membuat para siswanya stress, pressure dan akhirnya mogok sekolah. Segala macam diajarkan dan banyak hal yang diujikan, tetapi tak satupun dari siswa yang menerapkannya setelah ujian. Ujiannya pun hanya sekedar tahu, 'Knowing'.

Di negara kami, sistem pendidikan benar-anak diarahkan untuk mencetak manusia-manusia yang 'tidak hanya TAHU apa yang benar tetapi MAU melakukan apa yang benar sebagai bagian dari kehidupannya'.

Di negara kami, anak-anak hanya diajarkan 3 mata pelajaran pokok :

1. Basic Sains
2. Basic Art
3. Social

Dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus dan dibandingkan dengan kejadian nyata di seputar kehidupan mereka.

Mereka tidak hanya TAHU, mereka juga MAU menerapkan ilmu yang diketahui dalam keseharian hidupnya. Anak2 ini juga tahu persis alasan mengapa mereka mau atau tidak mau melakukan sesuatu.

Cara ini mulai diajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yang kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk 'Being', yakni manusia2 yang melakukan apa yang mereka tahu benar."

Wow!

Betapa sekolah begitu memegang peran yang sangat penting bagi pembentukan perilaku dan mental anak2 bangsa.

Betapa sebenarnya sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga sertifikasi yang hanya mampu memberi ijazah para anak bangsa.

Kita mestinya lebih mengarahkan pendidikan untuk mencetak generasi yang tidak hanya sekedar TAHU tentang hal2 yang benar, tapi jauh lebih penting untuk mencetak anak2 yg MAU melakukan apa2 yang mereka ketahui itu benar, mencetak manusia2 yang 'Being'.

Apakah tempat anak2 kita bersekolah telah menerapkan sistem pendidikan dan kurikulum yang akan menjadikan anak-anak  kita untuk menjadi makhluk 'Being' atau hanya sekedar 'Knowing' ?

Mengetahui Yang Benar' tetapi 'Tidak Pernah  Melakukan Dengan
Benar' sama dengan 'Tidak Mengetahui'

Semoga "weling" ini menjadikan "eling" untuk kita semua.

Minggu, 19 November 2017

ERA DISRUPTION

Akhir-akhir ini saya sering dapat broadcast WA, postingan FB, dan pembicaraan simpang siur yg isinya adalah semacam peringatan, bahkan ancaman tentang bahaya "Era Disruption".




Terakhir bahkan ada seorang penulis yg mungkin karena semangat sekali, menyatakan bahwa saking mengkhawatirkannya era disruption ini, “bisa membuat anak cucu kita mati berdiri sambil memeluk kitab suci yg entah akan menolong dengan cara apa”. Maka saya terpaksa bikin tulisan ini, walaupun sedang musim ujian di program MBA saya di UK & USA.

Setelah saya lacak, histeria dan demam “Disruption” ini sepertinya salah satunya berawal dari buku, ceramah dan tulisan-tulisan Prof. Rhenald Kasali, Guru besar FE UI, dan salah satu "World Management Guru", khususnya dibidang Change Management.

Saya sangat setuju dan menghormati beliau sebagai salah satu tokoh penggerak perubahan yg saya kagumi dan ikuti tulisan2nya. Dan sampai saat inipun saya masih menghormati beliau. Tulisan ini sama sekali "nothing personal", hanya sekedar perimbangan wacana saja, agar perspektif kita lebih utuh untuk menyikapi gegap gempita demam "disruption era" yg salah kaprah.

Saya merasa ada yg kurang lengkap dari pemaparan beliau yg akhirnya bikin banyak orang ketakutan dan salah paham.  Banyak orang awam yang akhirnya jadi panik nanti masa depan anak2nya bagaimana jika pekerjaan2 yang ada sekarang bakal lenyap. Banyak eksekutif perusahaan jadi panik jangan2 mereka akan jadi korban "disruption" berikutnya dan akhirnya tergopoh2 mau bertindak tapi jadi mati gaya karena bingung entah mau melakukan apa.

Saya bisa memahami jika Prof. Rhenald bikin banyak orang jadi ketakutan. Bahkan di acara bedah buku beliau di Periplus yg saya tonton lewat Youtube, sang moderator sendiri sampai bertanya, "Prof, Ini kita kesini mau cari ide bisnis di era disruption, tapi kok malah pada pesimis nih menatap masa depan, setelah mendengar pemaparan profesor.. Dan Prof. Rhenald masih juga belum memberikan jawaban yg tegas bagaimana menyikapi perubahan drastis ini.

Saya juga memahami mengapa Prof. Rhenald di buku2nya, tulisan2 dan ceramah2nya banyak menghasilkan kepanikan dan ketakutan. Mungkin ini berawal dari paradigma "Change Management" yg menjadi bidang keahlian beliau. Dalam ilmu manajemen perubahan, salah satu tokoh utamanya adalah Professor Emeritus Harvard Business School, John P. Kotter, dengan teori beliau tentang "8 Steps to change". Dalam teori ini, langkah pertama untuk bikin sebuah organisasi (dan individu) mau berubah adalah dengan "increase urgency" alias bikin orang2 merasakan urgensitas perubahan. Dan cara paling ampuh untuk itu adalah dengan bikin mereka "ketakutan" apa dampaknya jika tidak mau berubah. Mungkin dengan niat baik inilah Prof. Rhenald hendak menyadarkan masyarakat agar segera “berubah”.

Saya sepakat dengan niat baik untuk menggugah kesadaran masyarakat agar berubah, tapi saya tidak sepakat dengat pendekatan yang entah disadari atau tidak oleh beliau telah menebarkan banyak ketakutan dan kegalauan. Mengapa saya tidak sepakat? Berikut ini alasannya:

A) Sebenarnya cara “menebarkan ketakutan dan kekhawatiran” ini baik2 saja diterapkan untuk jenis perubahan yang tidak membutuhkan kreativitas, tapi jadi tidak produktif jika tujuan kita adalah untuk melahirkan inovasi, kreatifitas, dan terobosan2 baru. Padahal untuk survive dan Berjaya di era disruption, salah satu syarat utamanya adalah: KREATIVITAS.

B) Tidak pernah (atau setidaknya jarang sekali) ide2 kreatif dan terobosan2 inovatif terlahir dari rasa takut. Buku babon setebal hampir 800 halaman tentang kreativitas, The Encyclopedia of Creativity menyebutkan bahwa salah satu penghalang utama kita untuk menghadirkan solusi kreatif adalah jika kita sedang mengalami “emotional barrier”. Dan diantara semua jenis emosi penghalang kreativitas ini, rasa takut adalah yg paling melumpuhkan. Jadi anda tidak bisa memaksa orang yg sedang dilanda ketakutan tentang bahaya era disruption untuk mencari solusi kreatif tentang bagaimana sukses mengatasinya. Anda hanya akan berhasil membuat mereka ketakutan, merasa terpaksa harus berubah, semangat ikut trainingnya, tapi bingung dan mati gaya harus melakukan apa.

C) Cara yg lebih pas untuk bikin orang terbuka pintu hatinya untuk mau berubah, sekaligus terinspirasi untuk jadi kreatif menemukan solusi adalah dengan memberikan mereka rasa OPTIMISME akan hadirnya kesempatan yang sangat besar menanti di depan mata.

1) Bill Gates melahirkan Microsoft bukan karena ketakutan kehilangan pekerjaan, tapi terinspirasi sekali akan hadirnya komputer, dan optimis bahwa dia bisa bikin software bagus. Akhirnya dia telpon ibunya bahwa dia bakal 6 bulan tidak pulang untuk mengerjakan proyek MS-DOS dari IBM.

2) Mark Zuckerberg bikin Facebook bukan berangkat dari ketakutan akan masa depannya. Bahkan dia pertaruhkan masa depannya dengan DO dari Harvard demi mengejar impian "menghubungkan tiap orang di muka bumi". Pada saat ceramah di acara wisuda di Harvard, dia mengatakan, yg bikin dia bisa melahirkan Facebook, karena dia merasa tenang, tidak takut apapun. Dan dia ingin menekankan pentingnya setiap orang untuk “bebas dari rasa takut”, untuk mencoba hal2 baru yg inovatif.

3) Steve Jobs, Thomas Alfa Edison, Elon Musk, Jeff Bezos, sebutkan semua inovator kreatif yg bikin perubahan2 radikal abad ini, hampir semuanya tidak ada yg melahirkan inovasinya dalam suasana batin ketakutan akan ancaman situasi masa depan. Mereka semua adalah para OPTIMISTS yg melihat kesempatan besar ditengah kebanyakan orang yang sedang kalut dan takut menghadapi tantangan zamannya.

4) Terakhir, di level lokal, Trio Unicorn Indonesia (Startup bernilai diatas 14 Trilyun rupiah: Gojek, Traveloka & Tokopedia) tidak ada yg dilahirkan dari orang2 yg ketakutan akan masa depan. Mereka semua mendirikan perusahaan2 tersebut dengan suasana batin optimis dan terinspirasi akan peluang besar di depan mata.

5) Singkat kata: Takut & pesimis = Bingung & Mati Gaya, Tenang & Optimis = Kreatif & Solutif

D)Era Disruption adalah era yg seharusnya bikin kita optimis, bukannya malah ketakutan. Mengapa? Karena ini hanyalah era transisi menuju era abundance (keberlimpahan). Minggu lalu saya baru pulang dari training di Singularity Univeristy. Ini adalah salah satu lembaga yg meneliti, mengajarkan dan mempopulerkan istilah “Disruption Era”. Lembaga ini di disponsori oleh NASA, Google, dan perusahaan2 teknologi paling top di Silicon Valley, bahkan bertempat di pusat penelitian NASA disana. Di pusatnya sini, Istilah “disruption era” itu menimbulkan aura positif, optimis, dan penuh semangat. Saya ndak tahu lha kenapa begitu sampai di Indonesia malah diartikan salah kaparah sebagai istilah yg menakutkan dan penuh ancaman. Mungkin karena Prof. Renald sebagai juru bicara utamanya menyampaikannya sepenggal saja (sisi seramnya), jadi banyak orang salah paham, panik dan ketakutan. Itulah mengapa belajar setengah2 itu berbahaya, “little bit learning is dangerous”.

E)Era disruption adalah fase ke-3 dari 6 fase Exponential Growth. Yg menelorkan teori ini adalah Peter Diamandis (Co-founder dari Singularity University tersebut). Menurut beliau, abad ini akan ditandai perubahan besar2an yg terjadi dalam 6 fase (6D's of Exponential Growth):

1) Digitalization (Transformasi dari analog menjadi Digital. Misal: Kodak menemukan Foto Digital. Atau Musik, Film, Buku, dll dijadikan bentuk digital MP3, MP4, PDF, dll)

2) Deception (Kodak tertipu karena dikira ini teknologi amatir yg ndak bakal bisa menggantikan keindahan dan ketajaman foto manual, karena saat itu resolusinya masih 0,1 Mega Pixel).

3) Disruption (Diluar kendali Kodak, tiap 18 bulan, ketajaman foto digital naik 2x lipat secara eksponensial. Dan pada saat ketajamannya mencapai 2 Mega Pixel, kualitasnya sudah sama dengan foto analog. Saat itulah Kodak mulai terdisrupsi.) Fase inilah yg bikin kehebohan disana sini, karena di fase ini, Uber mendisrupt perusahaan taxy, AirBnB mendisrupt Hotel, dll. Terjadi kepanikan masal karena dipikir dunia (minimal bisnis kita) akan runtuh.

4) Dematerialization (semua produk digital akhirnya tidak perlu wadah "material" karena tiba2 semua bisa disimpan di Cloud yg siap diunduh kapanpun dan dimanapun. Jadi silahkan dibuang Semua hardisk yg beirisi koleksi Foto digital anda. Upload aja ke Google Foto yg gratis penyimpanannya, kapanpun, dimanapun, pake alat apapun yg kompatibel, jika anda perlu foto itu tinggal download)

5) Demonetization (Begitu semua tidak dalam wadah material, maka harganya makin lama makin turun. Dan satu saat bisa sangat murah dan terjangkau buat semua. Begitu buku sudah di .Pdf kan, harganya nyaris Nol. Silahkan aja ke koleksi 300 juta buku gratis di: www.pdfdrive.net. Sekarang semua Musik, foto, buku, film, serial tv sudah dibikin versi digitalnya, yg kita masih diminta bayar, tapi ini makin lama makin murah, karena tidak ada lagi "biaya cetak".

6) Democratization (Pada puncaknya, semua produk akan menjadi murah dan tersedia buat semua orang. Anda telah merasakan sebagian, Video call gratis, HP Murah, Belajar & Baca Buku, Nonton Film dan dengar musik gratis, dll. Inilah fase Abundance for All: Keberlimpahan buat semua). Peter Diamandi menulis buku khusus yg menjelaskan fenomenna “Abundance” ini. Sekedar intermezzo: Saat Bill Clinton mempromosikan buku ini, Peter ditanya sama Bill, “mengapa anda jadi orang kok sangat optimis?” Peter menjawabnya, “Karena saya tidak pernah baca berita (apalagi hoax), dan saya hanya percaya sama data2 ilmiah. Dan semua data ilmiah ini mengarah kesana, bahwa kita semua akan berkelimpahan, abundance for all”. Mungkin ada baiknya kita tiru kebiasaaan Peter Diamandis ini agar kita tidak serba pesimis dan ketakutan: Jangan banyak baca berita, mulailah baca data2 ilmiah.

Maka mestinya, era disruption itu tidak perlu ditakuti atau bikin panik, cuman perlu dipahami bahwa ini bagian dari revolusi kemajuan peradaban yg makin lama akan makin cepat dan insya Allah mengarah pada perbaikan buat semua.. the greatest good for the greatest number of people. Kalau dalam revolusi ada korban2 yg bergelimpangan karena ndak cukup paham dan tanggap, itu hal yg biasa. Nanti juga mereka akan belajar. Dan kita semuapun perlu belajar lebih tuntas untuk menyambut Era Baru yang sangat menjanjikan ini.

Kesimpulan :

Terimakasih Prof. Renald Kasali, yang atas jasa bapak telah menggugah banyak orang dan perusahaan untuk shock dan mau berubah. Tapi semoga ini jangan kebablasan jadi ketakutan dan kekhawatiran massal. Karena itu perlu dilengkapi juga dengan wacana penyeimbang yang menyuntikkan optimisme dan harapan.

Karena ide-ide besar kreatif dan terobosan-terobosan baru inovatif untuk survive dan Berjaya di era disruption ini tidak akan pernah lahir dari rasa takut dan panik, tapi akan tumbuh subur di pikiran orang-orang dan perusahaan2 yg tenang dan optimis.

Salam takdzim buat Prof. Rhenald Kasali dan kawan2 semua yg membaca tulisan ini.

Bloomington, 14 November 2017

Ahmad Faiz Zainuddin
Mahasiswa MBA
Warwick Business School, UK
Indiana University, USA
Alumni Singularity University, Silicon Valley, USA

Selasa, 14 November 2017

SABAR BUAT SENDIRI

SABAR



Direndahkan tidak mungkin jadi SAMPAH, Disanjung tidak mungkin jadi REMBULAN.

Maka jangan risaukan OMONGAN orang, sebab setiap orang membacamu dengan pemahaman dan pengalaman yang berbeda.

Teruslah melangkah selama engkau di jalan yang BENAR, meski terkadang KEBAIKAN TIDAK SELALU DIHARGAI.

Tidak usah repot-repot menjelaskan tentang dirimu, sebab yang menyukaimu TIDAK BUTUH itu dan yang membencimu TIDAK PERCAYA itu.

HIDUP  itu bukan tentang siapa yang TERBAIK, tapi tentang SIAPA yang mau BERBUAT BAIK.

Jika didzalimi orang JANGAN BERPIKIR untuk MEMBALAS DENDAM, tapi berpikirlah cara MEMBALAS dengan KEBAIKAN.

Teruslah BERDOA dan BERSYUKUR. Sibukkan diri dalam KEBAIKAN hingga KEBURUKAN LELAH MEMGIKUTIMU.

Orang TAK BERIMAN berkata, SABAR itu ADA BATASNYA.

Tapi bagi orang yang BERIMAN, SABAR itu TANPA BATAS.

Jadi , sabar itu menerima dahulu kehadiran tamu yang bernama "MASALAH" sebelum kita melepaskannya. Sebab kita tak akan mudah melepas sesuatu yang belum kita terima.

Masalah itu akan mudah berpamitan bila sudah kita jamu dengan BERSYUKUR.

Semoga bermanfaat..

Minggu, 12 November 2017

KITA SEMUA BERBEDA, TETAPI KITA TETAP BELAJAR & BEKERJA SAMA

KITA SEMUA BERBEDA, TETAPI KITA TETAP BELAJAR & BEKERJA SAMA


Assalammu'alaikum...

Hari ini adalah hari yang teramat penting dan teramat indah, bagi anda para mahsiswa dan mahasiswi.  Saudara – saudara adalah bagian dari sedikit orang – orang yang dipilih Allah SWT untuk diangkat derajat hidupnya, dengan Ilmu. Hari ini dalam strata sosial, posisi saudara sudah meningkat dari strata bawah ke strata atas.

Selaku orang yang berada di strata atas, tidak pada tempatnya apabila melewatkan hari – hari tanpa Ilmu, Kreatifitas dan pedoman hidup yang bermanfaat.  Hadirin peserta Makrab STIE MBI, dinamika kehidupan saat ini ditandai oleh semakin menguatnya persaingan hidup, yang berkembang bteramat ketat, juga sudah berubah dari persaingan konvensional ke persaingan berteknologi tinggi.

Manusia bersaing ditengah keberagaman sikap, pemikiran, ideologi, kepentingan dan pola hidup yang kompleks dan berbenturan. Manusia semakin asing terhadap dirinya sendiri, asing terhadap nuraninya dan asing terhadap nilai-nilai kebaikan, kebenaran, kejujuran dan keadilan.

Di Kampus STIE MBI, kreatifitas adalah harta karun yang tak ternilai. Sentuhan kreatifitas akan membuat hal yang biasa menjadi sesuatu yang luar biasa menginspirasi, bahkan mengubah!, Di STIE MBI, setiap orang adalah Jenius !

Di STIE MBI Nilai Semangat, kreatifitas, maupun terobosan tidak ada artinya jika tidak mengandung kebermanfaatan bagi lingkungan dan orang banyak.  Mahasiswa harus ciptakan sesuatu yang luar biasa sekaligus bermanfaat nyata bagi mahasiswa dan masyarakat.

Pasar Kampus adalah gagasan yang diera digital ini semakin menjadi market place of idea.  Kampus bertugas membangun kemampuan berfikir kritis bagi mahasiswa. Didalam kampus mereka belajar mengunyah berbagai gagasan lama, untuk membangun gagasan baru mereka sendiri – dalam lingkungan yang lebih terkendali.

Bersiaplah :
Di masa sekarang, dalam ujian Mahasiswa disuruh menjawab pertanyaan di sebuah kertas. Di masa depan mungkin ujian hanya dengan kertas kosong tanpa pertanyaan.

Tukang pos bersaing dengan teknologi : WA, email. Profesi hari ini belum tentu di masa depan masih ada, sehingga tanyakan kepada Mahasiswa besok mau membuat apa… ? Jangan bertanya mau jadi apa… ?

Pengelola pendidikan jangan terpukau dengan cerita masa lalu, tapi gelisahlah dengan masa depan. Kemenangan itu disiapkan di ruang kelas dan di ruang komunitas.

Wassalammu'alaikum...
Eko Yulianto




TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN - PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERESIKO

Pengambilan Keputusan Beresiko Resiko merupakan penyimpangan dari ekspektasi tingkat pengembalian yang diharapkan, pelaku bisnis selalu me...