1. Jujur
Tidak pernah rugi jika kita belajar dan mempelajari tentang Ilmu Ekonomi. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas.
Selasa, 04 Desember 2018
MEMBANGUN SOLIDARITAS DENGAN NILAI SAPTA PESONA MAHASISWA
1. Jujur
Beberapa manfaat dari sikap disiplin :
1)
Memiliki Banyak Alternatif Jawaban dan Ide
Kreatif,
2)
Mudah Memahami Sudut Pandang Orang Lain,
3)
Menjadi Rekan Kerja Yang Baik,
4)
Lebih Mandiri,
5)
Sering Menemukan Peluang Baru,
6)
Meminimalkan Salah Persepsi,
7)
Tidak Mudah Ditipu,
Senin, 01 Oktober 2018
MASA DEPAN BISA BERBEDA JAUH DARI PERKIRAAN
Nokia menolak tawaran Android di tahun 2011 karena dianggap sebagai system newbie yang tidak lebih baik dari Windows yang mereka gunakan dan tidak akan sukses.
Nokia tenggelam dalam sekejap oleh pamor Android. Hal yang sama terjadi pada Yahoo, yang terlibas mentah mentah bila dibandingkan dengan Google, terutama sekarang ini.
Sukses berarti punya keberanian mengambil resiko, kebersediaan mengikuti perubahan yang ada, kebersediaan untuk beradaptasi, dan memutuskan dengan analisis yang tepat TANPA harus merendahkan orang lain. Seseorang yang kita anggap lebih rendah dari kita sekarang, bisa jadi akan menjadi jauh lebih besar di masa depan.
Facebook memutuskan meng-akuisisi Whatsapp (2014) dan Instagram (2012), yang sebelumnya adalah kompetitor, walau saat itu baru merintis dan berada jauh di bawah Facebook.
Facebook, Whatsapp dan Instagram adalah 3 raksasa aplikasi social media yang tidak terkalahkan sekarang ini dengan value akumulatif sekitar lebih dari 1000 trilyun.
Sukses itu menjadi lebih kuat lagi dengan merangkul pesaing, menjadikannya kolega dan bersama-sama ber-inovasi menyatukan goal dan tujuan. Kadang menganggap kompetitor sebagai musuh yang harus dijauhi, tidak sepenuhnya benar.
Bill Gates mendirikan Microsoft di usia 21 tahun, Mark Zuckerberg mendirikan Facebook di usia 22, Jack Ma mendirikan Alibaba di usia 35, demikian halnya dengan Jeff Bezos mendirikan Amazon di usia 35. Sementara Ray Kroc memulai McDonalds di usia 52, John Pemberton menemukan Coca Cola di usia 55 dan Harland Sanders dengan KFC-nya di usia 65.
Semua perusahaan tersebut di atas, sekarang ini adalah perusahaan raksasa dan super power di dunia.
Usia hanyalah angka. Jangan jadikan usia sebagai alasan bahwa anda tidak mampu, entah karena terlalu muda, atau terlalu tua. Karena kemudian psikologi anda akan mulai menciptakan batasan, bagi anda, untuk mencapai goal, mimpi dan cita cita, di hidup anda yang hanya 1 kali ini.
Brenda Barnes, CEO Sara Lee, mengawali karirnya sebagai seorang waitress restaurant siap saji.
2 nama tersebut di atas, disebut Forbes sebagai 2 wanita paling powerful dan berpengaruh besar pada dunia bisnis sekarang ini.
Tidak satu orang pun bisa memprediksi masa depan. Akan kecil atau besar masa depan anda, semua ada di tangan anda dan anda yang meng-kontrol. Semua harus dibarengi dengan kerja keras tentunya. Bahkan kadang Super Keras, hingga jatuh bangun berdarah darah.
Perusahaan produsen luxury car, Lamborghini, bisa ada karena "balas dendam" seorang pembuat traktor yang ditertawakan dan dihina, oleh Enzo Ferari, pendiri Brand Luxury Car, Ferari.
Lamborgini dianggap lebih prestisius dan memiliki harga yang lebih mahal dibanding Ferari, walaupun lebih muda dan keduanya adalah Luxury Car Brand
Menerima hinaan dan cemoohan orang lain dengan lapang dada, akan menjadi motivasi besar bagi kita untuk melakukan pembuktian bahwa kita mampu lebih sukses dari orang yang menghina kita. Dan saat kesuksesan kita justru berada melampaui si penghina, maka proses "balas dendam" kita berarti "sangat berhasil dan terasa sangat nikmat". Menang banyak broooo...
Teruslah bekerja keras dan pantang menyerah. Gunakan waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak pernah akan kembali. Jangan suka nyinyir kepada orang lain dan Jangan pernah takut dengan kegagalan. Lakukan semua hal yang menyenangkan buat anda. Ingat... hidup hanya sekali. Dan tentunya... tetap semangat.
Minggu, 08 April 2018
7 KUNCI SUKSES BISNIS OLAHRAGA
Percayalah, ketika orang menyalahkan sesuatu, maka sesungguhnya orang itu tidak belajar dan tidak membuat hidupnya menjadi lebih baik.
3. Alasan sangat Kuat
4. Learn From The Best
Inilah cara tercepat untuk mencapai kesuksesan. Apakah pasti berhasil ?
Kita pasti bisa sukses bersama hobi kita sebagai karateka dan pelatih karateka.
Sabtu, 10 Februari 2018
PENDIDIKAN YANG MENGHUKUM INDONESIA
PENDIDIKAN YANG MENGHUKUM INDONESIA
Oleh: Rhenald Kasali
Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal, dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya, tulisan itu buruk. Logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat.
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!”, dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam.
Padahal, saat menempuh ujian program doktor di luar negeri, saya dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan para dosen penguji memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun, suasana ujian dibuat sangat bersahabat.
Seorang penguji bertanya, sedangkan penguji yang lainnya tidak ikut menekan. Melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
Etikanya, seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan. Tapi yang sering terjadi di tanah air justru penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya.
Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukannya melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul.
Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga cenderung menguji dengan cara menekan. Ada semacam unsur balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Lantas saya berpikir, pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakter hasil didikan guru-gurunya sangat kuat: yaitu karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu, saya pun mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa bersalah karena telah memberinya penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya justru mengatakan bahwa “gurunya salah”. Kini, saya mampu melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan rasa takut?
Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: Rotan pemukul, dilempar kapur atau penghapus oleh guru, setrap, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata ancaman: Awas…; Kalau…; Nanti…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin membuat kita lebih disiplin. Namun, juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.
Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari. atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, kecerdasan m anusia dapat tumbuh, tetapi sebaliknya juga dapat menurun.
Ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi, juga ada orang yang “tambah pintar” dan ada pula orang yang “tambah bodoh”.
Mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan.
Bantulah anak Indonesia untuk maju.
SALAM PERUBAHAN POLA PIKIR
TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN - PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERESIKO
Pengambilan Keputusan Beresiko Resiko merupakan penyimpangan dari ekspektasi tingkat pengembalian yang diharapkan, pelaku bisnis selalu me...
-
Lembaga keuangan internasional didirikan untuk menangani masalah-masalah keuangan yang bersifat internasional, baik berupa bantuan...
-
Hambatan-hambatan Koperasi di indonesia Salah satu kendala utama yang dihadapi koperasi adalah banyak partai politik y...
-
Pengambilan Keputusan Beresiko Resiko merupakan penyimpangan dari ekspektasi tingkat pengembalian yang diharapkan, pelaku bisnis selalu me...











